megaswaranews.com, Bogor – Puluhan mahasiswa yang tergabung dalam wadah Mimbar Nusantara menggelar aksi unjuk rasa di Jalan Raya Simpang Ciawi-Jagorawi, Kamis siang (10/07/2025). Dalam aksi tersebut, para mahasiswa memprotes maraknya pembangunan vila dan bangunan megah liar di kawasan Puncak, yang mereka anggap sebagai penyebab utama bencana alam di wilayah tersebut.
Para demonstran membawa berbagai poster berisi kecaman terhadap pemerintah daerah. Mereka bahkan membakar foto Gubernur Jawa Barat dan Bupati Bogor sebagai simbol kekecewaan atas sikap abai para pejabat dalam menjaga kawasan hulu Puncak dan kaki Gunung Salak. Mahasiswa menilai, pemerintah justru membiarkan alih fungsi lahan resapan terus terjadi demi kepentingan bisnis para pengusaha.
Koordinator lapangan aksi, Didan Afrizal, menyampaikan bahwa aksi damai ini merupakan bentuk kekecewaan terhadap terus terjadinya bencana yang disebabkan oleh lemahnya pengawasan terhadap perusahaan yang membangun secara masif di kawasan Puncak.
“Puncak itu kawasan konservasi yang berfungsi sebagai resapan air. Hal ini sudah diatur dalam Perpres tahun 2020. Tapi Gubernur Jabar, KDM, malah hanya melakukan aksi simbolik yang terkesan pencitraan semata. Tidak ada langkah konkret untuk menghentikan kerusakan,” tegas Didan.
Ia juga menuding bahwa pemerintah hanya memberikan bantuan dan menyegel bangunan tanpa menyentuh akar masalah. “Kalau serius, tutup saja perusahaan-perusahaan yang mengeksploitasi alam. Sekarang, pembangunan di Puncak semakin gencar dan hanya berorientasi pada keuntungan bisnis,” lanjutnya.
Dalam aksinya, para mahasiswa menyalahkan Pemkab Bogor atas kemudahan perizinan yang diberikan kepada para pengusaha, yang pada akhirnya membuka peluang bagi eksploitasi kawasan hulu dan menyebabkan bencana ekologis yang memakan korban jiwa.
“Gubernur dan Bupati gagal memberi solusi konkret. Jangan sampai kelalaian ini kembali menelan korban. Pejabat harus segera bertindak cepat melakukan mitigasi dan menjaga kawasan lindung,” tutup Didan.(Dju)





















