megaswaranews.com, DRAMAGA – Wilayah Petir dan sekitarnya saat ini dinyatakan sebagai daerah rawan bencana. Hal ini terlihat dari peristiwa yang terjadi belakangan ini, di mana longsor melanda tiga desa, sedangkan dua desa lainnya terkena dampak banjir. Kondisi cuaca yang tidak menentu menjadi pemicu utama bencana alam tersebut.
Kapolsek Dramaga Iptu AM ZALUKHU Menyikapi situasi ini, pihak berwenang mengimbau seluruh masyarakat untuk tetap waspada dan menjaga keselamatan diri masing-masing. Untuk memudahkan penanganan keadaan darurat, pemerintah telah menyediakan nomor layanan hotline 112 dan 110 Nomor ini sudah terintegrasi dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah atau BPBD, dan dapat dihubungi secara gratis tanpa menggunakan kuota internet.
“Nomor ini bisa dihubungi oleh siapa saja, kapan saja. Di posko terpadu yang telah dibentuk di lingkungan pemerintah daerah, kami sudah bersatu. Mulai dari pihak Kepolisian, TNI, Badan Permusyawaratan Desa, hingga petugas Pemadam Kebakaran, semuanya bekerja sama tanpa ada ego sektoral. Tujuan kami hanya satu, yaitu memastikan keselamatan dan keselamatan masyarakat,” jelas juru bicara penanganan bencana.

Lebih lanjut dikatakan Kapolsek Dramaga, Dalam peristiwa longsor yang terjadi hari ini, tercatat satu orang meninggal dunia. Selain itu, tiga unit rumah mengalami kerusakan akibat tertimbun material longsor, namun tidak ada korban jiwa dari penghuninya. Sementara di kawasan Suka Damai, sekitar enam unit rumah terendam banjir.Selasa (5/5/2026)
Pihak berwenang juga menyampaikan imbauan penting bagi warga yang merekam peristiwa tersebut, untuk tidak menyebarkan atau memviralkan video yang menampilkan korban. Hal itu diatur dalam undang-undang, dan bertujuan untuk menghormati martabat korban serta keluarga yang ditinggalkan.
Korban Abah Bidong bin Uca 61 thn diketahui sedang melakukan pekerjaan pembersihan dan pemotongan bambu di bantaran sungai. Tiba-tiba, tebing di lokasi tersebut longsor dan menimpa korban. Informasi peristiwa ini pertama kali diterima pukul 13.00 WIB. Tim pertama yang tiba di lokasi adalah perangkat desa dan anggota BPD, disusul oleh gabungan unsur keamanan dan penanggulangan bencana. Korban baru berhasil ditemukan pada pukul 17.15 WIB.
Proses evakuasi berjalan cukup sulit. Tantangan terbesar adalah tumpukan material tanah dan batu yang sangat tebal menimbun tubuh korban. Selain itu, akses jalan menuju lokasi tidak memungkinkan untuk dilalui alat berat seperti ekskavator. Akhirnya, proses pencarian dan evakuasi dilakukan secara manual menggunakan cangkul dan peralatan seadanya, dengan dukungan penuh dari gotong royong warga setempat.
“Kami tidak bekerja sendirian. Semua elemen masyarakat bahu-membahu membantu kami mencari korban. Inilah kekuatan kita di sini,” tambahnya.
Di akhir pernyataan, pihak berwenang meminta warga yang tidak memiliki kepentingan langsung di lokasi kejadian untuk segera kembali ke rumah masing-masing demi kelancaran proses penanganan dan evakuasi. Punglasnya ***















