megaswaranews.com, CIBUNGBULANG, KABUPATEN BOGOR– Langit di atas permukiman warga Kampung Cimangir Girang, Desa Galuga, kini kelabu dan mencekam, tertutup tirai asap hitam pekat hasil kebakaran dahsyat di Tempat Pembuangan Akhir Sampah (TPAS) Galuga yang berkobar ganas sejak hari Senin lalu. Hingga hari ketiga ini, api belum menyerah, dan kepedihan nyata kini dirasakan langsung oleh ribuan jiwa yang tinggal di dekatnya. Rabu (9/9/2026)
Udara yang mereka hirup bukan lagi segar, melainkan sarat debu dan racun yang menyengat. Warga merasakan siksaan nyata, mata terasa perih bagai disayat jarum panas, berair dan perih tak henti-henti, sementara dada terasa berat, sempit, serta sesak napas seolah tercekik tanpa ampun di tengah asap yang menyelimuti kampung bak kabut gelap yang tak kunjung reda.
Kobaran yang meledak sejak Senin (7/9/2026) lalu membara terus meski berupaya diredam oleh barisan petugas gabungan yang tak kenal lelah,gabungan kekuatan TNI, Polri, BPBD, Pemadam Kebakaran hingga para relawan yang berjuang habis-habisan. Namun gunungan sampah raksasa itu seolah tak kunjung padam, melemparkan asap yang meluas dan menelan lingkungan warga dalam kepulan yang menyengat dan panas.
Yang paling menyayat hati, ribuan warga Kampung Cimangir Girang ini tak memiliki jalan keluar. Mereka terpaksa bertahan dan berbagi napas yang menyakitkan karena rumah mereka adalah satu-satunya tempat berlindung dan tanah tempat mereka berpijak seumur hidup. Tidak ada tempat lain untuk mengungsi, memaksa mereka tetap berada di tengah udara yang menggerogoti kesehatan hari demi hari.
Suasana di sana mencekam, langit yang gelap di siang hari, mata yang pedih tak sanggup terbuka, dan rasa tercekik yang mengintai setiap saat. Warga seperti Tati Nurhayati mengungkapkan keprihatinan yang mendalam dan rasa perih yang tak terlukiskan, terjepit antara kebakaran besar yang tak kunjung padam dan ketiadaan tempat pelarian yang aman bagi mereka dan keluarga tercinta.
Penderitaan ini masih berlanjut mengiringi perjuangan berat petugas di lapangan, sementara warga di sana terus berharap angin berubah arah dan api segera padam agar kehidupan mereka yang tertutup asap kelabu itu kembali cerah dan bernapas lega seperti sedia kala. (manabd)














