megaswaranews.com, Bandung – Aparat keamanan menyerang kawasan kampus Universitas Islam Bandung (UNISBA) dan Universitas Pasundan (UNPAS) pada Selasa dini hari (2/9/2025), setelah aksi unjuk rasa yang berlangsung sejak Senin malam berujung ricuh. Dalam serangan ini, polisi menembakkan gas air mata dan petasan ke dalam area kampus, mengakibatkan sejumlah korban, termasuk petugas keamanan kampus yang terkena dampaknya.
Situasi di lapangan semakin memburuk karena akses bantuan medis terhambat. Ambulans tidak bisa masuk ke dalam area kampus UNISBA akibat situasi yang belum kondusif. Tim medis hanya bisa menempatkan ambulans di titik terdekat, yakni sekitar Kampus Institut Teknologi Bandung (ITB)
Diduga kedua kampus ini memang dijadikan tempat para demonstran untuk menggalang pertolongan pertama ketika terkena dampak gas air mata atau kecelakaan lainnya, Dalam video yang beredar di media social tampak terlihat sejumlah mahasiswa berlarian panik ke dalam ruangan menghindari gas air mata. Mereka pun sempat berteriak agar tidak ditembaki karena ini merupakan area kampus.
“woy ini kampus woy” teriakan dalam video
Serangan aparat terhadap kedua kampus ini berlangsung selama beberapa jam, dari Senin malam hingga Selasa dini hari. Rekaman CCTV yang beredar di media sosial menunjukkan suasana mencekam saat aparat menembakkan gas air mata dan petasan ke arah kampus. Aparat menuduh adanya aktivitas yang mengganggu keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas), meski hingga kini pihak kampus belum memberikan klarifikasi resmi atas tuduhan tersebut.
Pihak UNISBA dan UNPAS belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait insiden ini, dan kepolisian juga belum mengonfirmasi jumlah korban serta tingkat keparahan luka yang terjadi.
Hingga Selasa pagi, aparat masih mengawasi ketat area di sekitar kedua kampus. Mereka juga meminta masyarakat menjauhi lokasi kejadian dan mengikuti arahan dari petugas di lapangan.
Serangan terhadap UNISBA dan UNPAS ini menambah daftar panjang insiden yang melibatkan aparat dengan civitas akademika dalam beberapa waktu terakhir. Publik kini menanti penjelasan resmi dari pihak berwenang mengenai kronologi kejadian dan alasan di balik tindakan aparat. (red)





















