megaswaranews.com, Jakarta – Dalam ruang digital saat ini, reputasi perusahaan tidak lagi sepenuhnya ditentukan oleh kualitas produk atau layanan yang dimiliki perusahaan. Tantangan terbesar perusahaan hari ini bukan sekadar mengelola konten, melainkan mengelola kepercayaan di tengah kebisingan digital. Siapa yang paling keras bersuara, siapa yang paling cepat membangun narasi, dan siapa yang paling mampu menguasai percakapan itulah yang akan memiliki reputasi kuat. Selasa, (17/2/2026).
Saat ini, kita hidup dalam lanskap yang melahirkan apa yang disebut sebagai publik digital, yakni kumpulan warga yang berinteraksi, membentuk opini, dan mengambil keputusan melalui jejaring platform seperti Instagram, TikTok, X, dan media sosial lainnya.
Publik digital bukan sekadar pengguna internet, mereka adalah aktor yang memproduksi, menyebarkan, dan memvalidasi informasi secara kolektif. Dalam ekosistem ini, persepsi sering kali lebih berpengaruh daripada fakta, hal ini sering disebabkan karena adanya buzzer dan akun palsu yang membentuk opini publik digital sesuai narasi mereka.
Publik digiring untuk memiliki persepsi terhadap sebuah produk atau perusahaan berdasarkan opini yang dibentuk buzzer, bukan berdasarkan pemahaman maupun pendapat mereka sendiri. Ketika ratusan akun anonim menyuarakan kritik atau seruan tertentu secara serempak, publik melihatnya sebagai arus opini yang otentik. Padahal, bisa jadi itu hasil orkestrasi.
Dalam konteks korporasi, dampaknya sangat nyata. Contohnya seruan boikot terhadap produk-produk yang dikaitkan dengan Unilever di Indonesia dikarenakan dianggap mendukung suatu negara yang terlibat konflik dengan negara lain di Timur Tengah.
Pada berbagai platform, narasi boikot menyebar cepat, diperkuat oleh akun-akun yang identitasnya tidak jelas. Sebagian mungkin lahir dari keresahan konsumen yang nyata. Namun, sebagian lain menunjukkan pola koordinasi yang sistematis: pesan seragam, waktu unggah yang berdekatan, dan penggunaan tagar yang terstruktur.
Publik digital bekerja melalui mekanisme pengakuan sosial. Sesuatu dianggap benar karena banyak yang membicarakannya. Dalam situasi seperti ini, perusahaan menghadapi dua lapis tantangan. Pertama, menjawab substansi isu. Kedua, menghadapi amplifikasi buatan yang memperbesar skala persoalan. Tanpa kepercayaan, produk yang sama bisa dipersepsikan berbeda.
Dalam situasi tertentu, konsumen tidak lagi membeli semata karena kualitas, melainkan karena keyakinan terhadap nilai dan integritas perusahaan. Jika buzzer dan akun palsu terus menjadi instrumen dalam pertarungan narasi, kita tidak hanya menyaksikan krisis reputasi sesaat.
Kita sedang menyaksikan krisis legitimasi. Publik digital akan semakin skeptis terhadap setiap pesan korporasi. Setiap kampanye sosial dianggap strategi tersembunyi. Setiap klarifikasi diasumsikan sebagai rekayasa.
Oleh karena itu, perusahaan perlu menyadari bahwa menghadapi publik digital tidak cukup dengan membalas komentar atau membuat kampanye tandingan, melainkan dengan membangun komunikasi yang terbuka dan konsisten. Di tengah maraknya buzzer dan akun palsu, perusahaan sebaiknya fokus pada transparansi informasi, respons yang cepat namun berbasis data, serta menghadirkan ruang dialog yang nyata dengan konsumen.
Mengakui kekeliruan, menjelaskan langkah perbaikan secara terbuka, dan menunjukkan komitmen melalui tindakan nyata akan jauh lebih efektif dibanding sekadar membangun narasi pembelaan. Dalam ekosistem publik digital yang mudah terpengaruh buzzer dan akun palsu, ketenangan dalam merespons, konsistensi sikap, serta keberanian untuk bersikap transparan menjadi kunci agar reputasi tetap terjaga dalam jangka panjang.
Sumber : Marshelia Gloria Narida, S.S., M.A. (Dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Kristen Indonesia/UKI)





















