megaswaranews.com, DRAMAGA – Masalah kerusakan bangunan sekolah di Kabupaten Bogor semakin memprihatinkan, khususnya bagi sejumlah Sekolah Dasar Negeri. Kondisi bangunan yang tidak layak membuat proses kegiatan belajar mengajar tidak dapat dilakukan di dalam kelas, sehingga para siswa terpaksa belajar menggunakan alas terpal di halaman sekolah, bahkan tidak tertutup kemungkinan kegiatan belajar pun dialihkan ke musolla.
Terkait hal ini, Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Bogor, Wasto menjelaskan bahwa kondisi kerusakan bangunan sekolah di wilayahnya terbagi menjadi tiga kategori, yaitu rusak ringan, rusak sedang, dan rusak berat.
“Ya jadi kalau bicara tentang sekolah rusak, ada yang rusak ringan, rusak sedang, rusak berat. Dan itu kalau ingin tuntas dalam satu periode kepemimpinan ini pemerintah daerah yang sekarang, maka berarti harus menunda pembangunan yang lain. Artinya itu tidak mungkin karena memang jumlah yang rusak, baik sedang maupun ringan, sangat banyak. Tapi sejak yang saya tahu, sejak awal periode pemerintah sekarang itu berusaha secara bertahap menangani sekolah-sekolah, mulai dari yang rusak berat, kemudian sedang, lalu ringan. Tentu saja karena jumlahnya sangat banyak,” ujarnya.
Dijelaskan pula bahwa sekolah-sekolah yang menjadi prioritas penanganan tersebar di berbagai wilayah. Setidaknya ada beberapa sekolah di wilayah Kecamatan Tenjolaya, Kecamatan Nanggung yang juga membutuhkan perhatian serius. Pihak sekolah pun terus aktif menyampaikan usulan terkait perbaikan yang diperlukan secara berkelanjutan.
“Terkait sekolah prioritas dari pemerintah daerah, setahu saya ada beberapa di wilayah Kecamatan Tenjolaya sedangkan jika melihat data di Kecamatan Nanggung juga ada sekolah yang kondisinya memerlukan penanganan. Pihak sekolah juga tidak pernah berhenti mengusulkan, mereka selalu menyampaikan kebutuhan perbaikan,” tambahnya.
Ketua Komisi IV juga menekankan pentingnya pemeliharaan rutin sarana dan prasarana sekolah agar kerusakan tidak bertambah parah hingga menjadi rusak berat. Sebenarnya sudah tersedia anggaran yang dapat digunakan untuk keperluan pemeliharaan. Misalnya, jika ada atap yang sedikit bocor atau dinding yang mulai mengelupas, sebaiknya segera diperbaiki. Hal ini dilakukan agar kondisi bangunan tidak memburuk hingga setahun kemudian menjadi sangat memprihatinkan dan menghambat proses belajar mengajar.
Kondisi sarana dan prasarana sekolah yang buruk juga berdampak langsung pada Indeks Pembangunan Manusia (IPM) daerah, mengingat salah satu komponen penilaian IPM adalah bidang pendidikan. Selain itu, fasilitas yang tidak layak dapat mengganggu kenyamanan dan konsentrasi belajar para siswa. “Kondisi ini berpengaruh terhadap IPM daerah, karena IPM kan salah satu komponennya adalah pendidikan. Sarana dan prasarana yang kurang baik juga bisa mempengaruhi kenyamanan serta konsentrasi belajar anak-anak,” jelasnya.
Sementara itu, selama proses perbaikan bangunan belum selesai, kegiatan belajar mengajar tetap dapat disiasati agar tetap berjalan lancar. Apabila ruangan kelas tidak memungkinkan untuk digunakan, guru dan siswa dapat menyesuaikan metode pembelajaran, salah satunya dengan memanfaatkan Sistem Informasi Manajemen Berbasis Sekolah atau SIMBA, atau memanfaatkan ruangan lain yang layak sementara waktu. “Tapi sebenarnya hal ini bisa disiasati selama belum ada perbaikan karena masih dalam proses. Bisa dengan menyesuaikan metode belajar mengajar. Kalau ruangannya ternyata tidak memungkinkan, maka proses pembelajaran juga bisa dilakukan dengan bantuan SIMBA,” ungkapnya.
Pemerintah daerah dan DPRD Kabupaten Bogor berkomitmen untuk terus melanjutkan penanganan secara bertahap dan berharap seluruh pihak dapat bekerja sama dalam merawat fasilitas sekolah yang sudah ada agar dapat digunakan dalam jangka waktu yang lebih panjang, demi terjaminnya kenyamanan dan kelancaran proses pendidikan bagi seluruh siswa. (manabd)















