megaswaranews.com, LEUWISADENG – Rencana momen kelulusan sekolah identik dengan tradisi corat-coret seragam dan perayaan meriah. Namun, hal tersebut dikemas dengan cara berbeda dan penuh makna di salah satu SMP di Kabupaten Bogor. Sekolah yang berbasis seni dan budaya ini menerapkan aturan khusus serta konsep acara kelulusan yang menyentuh hati, jauh dari kesan pesta mewah. Kamis (04/6/2026)
Berbeda dengan kebiasaan umum di mana corat-coret sering dilakukan di jalanan atau tempat umum, pihak sekolah menegaskan aturan tegas: tradisi corat-coret seragam hanya diperbolehkan dilakukan di dalam lingkungan sekolah. Kegiatan ini tetap diizinkan sebagai wujud kebebasan berekspresi siswa, namun tetap dijaga agar tidak mengganggu ketertiban umum.
Pembina Yayasan Pesona Dywantara, H. Budy Antoro, Menegaskan sebagai sekolah yang memiliki keunggulan di bidang seni, angkatan ke-13 2025-2026 ini yang merupakan kelulusan sejak sekolah resmi berjalan mulai tahun 2013 menyimpan banyak prestasi membanggakan. Para siswa tidak hanya unggul di bidang akademik, namun juga menorehkan karya di bidang tari, seni bela diri (silat), hingga sukses menggelar kolaborasi seni bersama siswa SMK menunjukkan kualitas pembinaan bakat yang berjalan baik.
Menariknya, tidak ada alokasi anggaran atau subsidi khusus dari sekolah untuk acara perpisahan. Konsep yang diusung bukanlah pesta perpisahan, melainkan momen sakral serah terima siswa.
“Dulu saat anak-anak masuk ke sini, orang tua menitipkan anaknya kepada kami untuk dididik dan dibina. Maka wajar, saat mereka lulus, kami mengembalikan kembali anak-anak ini kepada orang tua dengan hasil pendidikan dan pembinaan yang telah kami laksanakan bersama,” ungkapnya
Kepercayaan masyarakat terhadap sekolah ini terlihat sangat tinggi. Dari data penerimaan siswa baru, tercatat sekitar 90 persen lulusan sekolah dasar di sekitar wilayah tersebut memilih melanjutkan pendidikan ke SMP ini. Angka ini menjadi bukti nyaman dan percayanya orang tua terhadap kualitas pendidikan dan lingkungan sekolah.
Pihak sekolah dan warga sekitar pun memiliki harapan besar agar angka tersebut terus meningkat hingga mencapai 100 persen. Hal ini mengingat pembinaan karakter dan bakat sudah berjalan berkelanjutan, serta siswa sudah sangat mengenal budaya dan lingkungan sekolah sejak dini.
Dengan segala keunikan tradisi dan konsep pendidikannya, sekolah ini membuktikan bahwa kelulusan bukan sekadar seremonial, melainkan tonggak perjalanan panjang pendidikan yang mengikat erat kerja sama antara sekolah, siswa, dan orang tua. Pungkasnya***















