megaswaranews.com, SUKAJAYA – Kawasan Bukit Wisata Curug Cidurian, Kampung Cibuluh, Desa Kiarasari, Kecamatan Sukajaya, Kabupaten Bogor, dipadati ratusan warga dan wisatawan dalam gelaran Festival Adat dan Budaya Saba Lembur II, Kegiatan ini menjadi bukti nyata upaya menjaga warisan leluhur sekaligus mendongkrak potensi wisata dan″ ekonomi masyarakat setempat. Selasa (7/7/2026)
Rangkaian hari kedua festival diawali dengan pawai dongdang yang diikuti warga dari berbagai wilayah Desa Kiarasari. Barisan peserta tampak meriah membawa hasil bumi, produk pertanian, serta karya tangan masyarakat sebagai simbol rasa syukur atas karunia alam yang melimpah.
Puncak kemeriahan terlihat saat tradisi Ngubek Empang digelar. Ratusan warga berbondong-bondong turun ke kolam bersama-sama untuk menangkap ikan. Sebanyak tiga kuintal ikan telah disebar sebelumnya, dan menjadi rebutan penuh kegembiraan yang disambut antusiasme tinggi dari warga maupun pengunjung.
“Tradisi Ngubek Empang sudah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan masyarakat di sini,” ujar Pembina Ekowisata Curug Cidurian, Nurodin, yang akrab disapa Jaro Peloy.
Ia menjelaskan Festival Saba Lembur berlangsung selama tiga hari penuh dengan beragam kegiatan. “Hari pertama diisi lomba tradisional dan zikir akbar. Tujuannya agar wisata ini bukan sekadar tempat rekreasi, tapi juga membentuk sikap masyarakat yang someah hade ka semah – ramah kepada tamu. Ini menjadi daya tarik yang membawa keberkahan sekaligus menggerakkan ekonomi warga,” jelasnya.
Untuk hari kedua, tambahnya, karnaval hasil pertanian adalah wujud syukur sekaligus cara memperkenalkan kekayaan Desa Kiarasari kepada pendatang. “Semua hasil bumi disajikan untuk dinikmati siapa saja. Wisata ini murni dibangun oleh kekuatan masyarakat sendiri, bukan bergantung pada pemodal besar. Pengunjung bisa menikmati keindahan alam sekaligus merasakan budaya asli kita,” tegasnya.
Festival ini juga menjadi strategi membuka peluang ekonomi baru, agar warga tidak lagi harus bermigrasi ke kota besar. “Saat ini Curug Cidurian dikunjungi minimal 7.000 orang setiap bulan. Wisatawan hanya membayar parkir dan tiket masuk kawasan, selebihnya kita datangkan pasar di sini. Warga bisa menjual hasil tani, suvenir, dan produk lokal lain untuk menambah pendapatan keluarga,” tambahnya.
Selain manfaat ekonomi, ekowisata ini berperan vital menjaga kelestarian lingkungan. Kawasan Curug Cidurian merupakan hulu sungai yang mengalir hingga ke Provinsi Banten. “Lewat wisata ini warga semakin sadar menjaga hutan. Perambahan dan penebangan liar bisa kita tekan, karena kita paham alam adalah aset utama. Ini sejalan kearifan lokal kita: gunung lestari, hutan terjaga, warisan terbaik untuk anak cucu,” pungkas Jaro Peloy. (manabd)














