megaswaranews.com — Bank Central Asia (BCA) melalui Divisi Manajemen Kekayaan dalam rilisnya, Senin (11/5/2026) menyebutkan ketidakpastian tensi geopolitik bertahan tinggi pasca aksi saling serang dan penolakan proposal baru dari kedua negara. Hal tersebut justru dikhawatirkan dapat mempengaruhi bahasan pertemuan Trump dan Xi Jinping di pekan ini. Pasar saham AS melanjutkan rally seiring rilis earnings Q1 2026 yang solid.
Iran mengajukan usulan, Trump menentang. Meskipun genjatan senjata masih berlanjut, ketidakpastian juga bertahan tinggi. AS-Iran melakukan aksi saling tembak di Selat Hormuz. Iran juga menembakkan rudal ke UAE dan AS menyerang dua kapal tanker Iran.
Iran telah mengirim respon terhadap proposal terbaru AS di mana Iran meminta ganti rugi perang, kedaulatan penuh atas Selat Hormuz, penghapusan sanksi, dan pembebasan aset Iran yang dibekukan.
Namun, Trump langsung menolak permintaan Iran tersebut. Ketidakpastian tersebut justru dikhawatirkan dapat mempengaruhi bahasan pertemuan Trump-Xi Jinping di Kamis ini yang seharusnya lebih berfokus pada perang dagang.
Data ketenagakerjaan AS April 2026 solid dengan nonfarm payrolls tumbuh 115,00K (exp. 55,00K), tingkat pengangguran stabil di 4,30%, dan pertumbuhan upah tumbuh 3,60% YoY (sebelumnya 3,40% YoY). Selisih antara pertumbuhan upah dan inflasi menyempit dan mempengaruhi dapat menekan perekonomian
Meskipun demikian, tingginya inflasi semakin membatasi ruang pemangkasan suku bunga The Fed. Di FOMC April 2026, The Fed menahan suku bunga di level 3,75% dengan hasil voting di 8:4, perbedaan suara terbesar sejak 1992. Empat perbedaan suara berasal dari Miran yang mendesak pemangkasan dan 3 pejabat (Hammack, Kashkari, dan Logan) yang mendukung kenaikan suku bunga.
Teknologi kembali mengaum, pasar saham AS menguat dengan DJIA +0,22%, S&P 500 +2,33%, dan Nasdaq +4,51% dalam sepekan per 8 Mei 2026. S&P 500 dan Nasdaq mencatatkan kemenangan beruntun terpanjang sejak 2024 yang ditopang oleh emiten teknologi
Katalis positif datang dari earnings Q1 2026 yang solid dimana sebanyak 89,00% perusahaan AS sudah melaporkan earnings. Dari perusahaan yang telah melaporkan earnings,sebanyak 82,00% berhasil melampaui ekspektasi analis.
Adapun upaya stabilisasi dilakukan Indonesia, yaitu Bank Indonesia (BI) dan Pemerintah kembali menggelontorkan berbagai upaya untuk menjaga kestabilan pasar finansial Indonesia, seperti meningkatkan yield SRBI, mengaktifkan kembali bond stabilization fund dan merencanakan kenaikan tarif royalti beberapa komoditas.
Selain itu, Indonesia juga menerapkan Mode pertahanan penuh. Rilis data ekonomi Indonesia menunjukkan perbaikan dengan PDB Q1 2026 tumbuh 5,61% YoY (prev. 5,39% YoY) dan inflasi April 2026 hanya tumbuh 2,42% YoY (prev. 3,48% YoY).
Pertumbuhan PDB Q1 2026 mencapai level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun, didorong oleh lonjakan pengeluaran pemerintah (21,80% YoY) dan Idul Fitri. Akan tetapi, USD/IDR melemah ke 17.373 per 8 Mei 2026 seiring tingginya demand USD.
Meskipun demikian, BI kerap melakukan intervensi berupa kenaikan yield SRBI 12M ke 6,40%, penurunan cadangan devisa April 2026 ke USD 146,20 miliar (Maret 2026 USD 148,20 miliar).
Pemangkasan limit pembelian valas tunai tanpa underlying dari USD 50.000/bulan ke USD 25.000/bulan. Menteri Keuangan juga mengaktifkan kembali bond stabilization fund yakni aksi buyback SBN di pasar sekunder untuk menjaga kestabilan IDR.
Kemudian, mengurangi Defisit, dari segi fiskal, Kementerian ESDM akan menaikkan tarif royalti sejumlah komoditas (tembaga, timah, nikel, emas, dan perak) per Juni 2026 untuk meningkatkan pendapatan negara. Pasalnya, defisit fiskal Maret 2026 melebar ke 0,92% PDB (Target 2026: 2,68% PDB).
Dari pasar obligasi, yield FR turun di seluruh tenor dalam sepekan per 8 Mei 2026. Investor asing mencatatkan inflow sebesar IDR 690,00 miliar dan bank menambah kepemilikan sebesar IDR 14,55 triliun dalam sepekan per 7 Mei 2026.
Dari pasar saham, IHSG sideways di 6.969 di tengah inflow asing sebesar IDR 440,00 miliar ke regular market dalam sepekan. Di sisi lain, rencana kenaikan tarif royalti dikhawatirkan dapat menekan margin keuntungan perusahaan sehingga memicu koreksi saham pertambangan, membuat sektor energi & basic materials terkoreksi signifikan.
Meskipun demikian, Kementerian ESDM menyatakan kenaikan royalti ditunda untuk menghitung formula terbaik. Cadangan devisa, aset yang dimiliki oleh bank sentral atau otoritas moneter untuk memenuhi kewajiban keuangan karena adanya transaksi internasional. (Lison)















