megaswaranews.com, TAMANSARI – Inovasi pertanian ramah lingkungan terus dikembangkan dengan memanfaatkan limbah dapur SPPG Yayasan Mutiara Keraton Solo menjadi pupuk organik cair. Metode ini terbukti mampu menghasilkan tanaman yang subur tanpa menggunakan bahan kimia sama sekali, bahkan hasilnya aman dikonsumsi langsung.Senin (4/5)
Sujimin, Praktisi pertanian, Dalam konsep ini, limbah organik diolah melalui Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang bersih dan terawat. Prinsip utamanya adalah menjaga integritas dan kenyamanan bersama, di mana pengolahan limbah tidak boleh mengganggu masyarakat sekitar. Jika pengelolaan IPAL tidak baik, maka kegiatan produksi sebaiknya dihentikan demi menjaga kualitas lingkungan.
“Kita tidak perlu lahan seluas hektar-hektar untuk mendapatkan hasil yang maksimal. Cukup dengan pengelolaan yang benar, limbah dapur bisa diubah menjadi nutrisi yang sangat baik untuk tanaman,” ungkap Sujimin

Pengolahan dilakukan dengan memisahkan sampah organik dan non-organik sejak awal. Bahan organik kemudian dipotong kecil-kecil dan difermentasi dengan bantuan bakteri alami. Sumber bakteri ini bisa didapat dari bahan sederhana seperti cairan fermentasi, telur, hingga sedikit susu. Berbagai istilah teknologi seperti biogenesis atau biomassa pada dasarnya memiliki prinsip yang sama, yaitu mengembalikan alam ke alam.
“Hasilnya luar biasa. Tanaman jagung yang diberi pupuk dari olahan limbah ini bisa tumbuh tinggi dengan cepat meski tanpa pupuk kimia sedikitpun. Jagung hasil panen bahkan bisa dimakan mentah karena kualitasnya yang benar-benar organik dan sehat.” Tegas Sujimin.

Metode ini juga dijadikan media edukasi bagi anak-anak, mulai dari tingkat TK, untuk mengenal proses menanam, merawat, hingga memanen dengan cara yang sehat dan alami.
Secara teknis, limbah dari satu dapur dengan kapasitas sekitar 3.000 porsi sudah cukup untuk memfertilisir lahan seluas satu hektar. Sistem ini juga sangat efisien dalam penggunaan air karena hanya memanfaatkan air bekas cucian, sehingga sangat cocok diterapkan bahkan di daerah yang memiliki keterbatasan air seperti di wilayah Jawa.
Inovasi ini membuktikan bahwa kemajuan bisa dicapai tanpa merusak lingkungan, dengan tetap menjaga prinsip kebersihan dan manfaat bersama.Pungkasnya***















