megaswaranews.com, CIBUNGBULANG – Guna mengatasi ancaman kekeringan di musim kemarau serta mendukung upaya swasembada pangan, saluran irigasi Cigamea di Desa Situ Ilir, Kecamatan Cibungbulang, kini telah selesai diperbaiki melalui Program Percepatan Peningkatan Tata Guna Air Irigasi (P3-TGAI) dari Kementerian PUPR. Jum’at (10/7/2026)
Saluran irigasi persawahan sepanjang 400 meter yang telah diperbaiki kini kembali berfungsi optimal. Hal ini membuat aliran air ke lahan pertanian menjadi lancar kembali, sehingga sawah-sawah petani berpotensi lebih subur dan menjanjikan hasil panen yang melimpah.
Sebelumnya, Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Simegatani Desa Situ Ilir, Muhammad Zulfikri, mengungkapkan keresahan yang dirasakan para petani selama ini.
“Selama ini banyak bagian saluran irigasi yang rusak. Saat musim hujan air justru tidak bisa mengalir lancar dari hulu ke hilir karena banyak titik yang jebol. Sebaliknya saat musim kemarau, persawahan kami mengalami kekeringan yang sangat parah,” ujar Zulfikri.
Bantuan perbaikan dari pemerintah melalui Kementerian PUPR ini dinilai sangat berarti bagi kelangsungan usaha tani di wilayahnya.
“Perbaikan saluran sepanjang 400 meter ini sangat membantu kami petani Desa Situ Ilir. Puluhan hektar lahan sawah kini tidak lagi khawatir kehabisan air saat musim kemarau tiba,” tambahnya.
Perlu diketahui, Desa Situ Ilir merupakan salah satu lumbung pertanian utama penghasil padi dan palawija di wilayah ini, yang memasok kebutuhan hasil pertanian ke berbagai pasar tradisional di kawasan Bogor Barat hingga seluruh Kabupaten Bogor.
Zulfikri berharap program serupa dapat terus berlanjut, mengingat masih banyak saluran irigasi lainnya yang membutuhkan perbaikan demi menjaga kelangsungan dan produktivitas pertanian warga.
Sementara itu, Kepala Desa Situ Ilir, Subhan, menyampaikan apresiasi yang mendalam kepada pemerintah atas perhatian yang diberikan.
“Kami sangat berterima kasih atas perbaikan ini. Langkah ini sangat meringankan beban para petani kami, terutama dalam menghadapi tantangan musim kemarau,” ungkapnya.
Di sisi lain, Subhan juga menyampaikan catatan penting terkait kewenangan pengelolaan. Ia menjelaskan bahwa kerusakan pada saluran irigasi sekunder yang menjadi tanggung jawab Pemerintah Kabupaten maupun Provinsi, belum seluruhnya tercakup dalam upaya perbaikan saat ini.
Diketahui, Desa Situ Ilir memiliki luas wilayah total 340 hektar, di mana sekitar 40 persen di antaranya merupakan area pertanian. Mengingat desa ini belum masuk dalam zona pembangunan prioritas, perbaikan akses air irigasi menjadi kebutuhan yang sangat mendesak untuk menjaga produktivitas pertanian sebagai tulang punggung ekonomi masyarakat setempat. (manabd)















