Komandan Pasmar 2 Surabaya, Mayjen TNI (Mar) Dr. Oni Junianto, menyebut sebanyak 460 sniper dari berbagai provinsi mengikuti kejuaraan tersebut.
Ia menjelaskan, lomba ini bertujuan mengasah kemampuan atlet menembak agar siap bersaing di ajang nasional maupun internasional. Selain itu, kegiatan ini juga menyalurkan hobi menembak secara positif, termasuk membantu petani mengendalikan hama seperti babi hutan.
Menurutnya, tantangan utama lomba berasal dari faktor cuaca dan angin yang berubah cepat, mulai dari kabut hingga hujan. Kondisi tersebut justru menguji konsentrasi, pengendalian emosi, dan teknik pernapasan peserta.
“Lomba jarak jauh seperti ini sangat langka. Biasanya maksimal 600 meter, sekarang kami beri tantangan hingga 1.000 yard,” ujarnya.
Selain jarak ekstrem, peserta juga harus menembak dari posisi tidak stabil sehingga menambah tingkat kesulitan.
Sementara itu, atlet asal Jawa Timur, Agnesca Noelani Rouw Banua, mengakui lomba menembak jarak 900 meter ini baru pertama kali digelar di Indonesia. Ia menilai angin menjadi tantangan utama dalam perlombaan.
“Senjatanya dibagi dua kelas, Open dan FTR. FTR menggunakan kaliber 3.08, sedangkan Open bebas hingga 7 milimeter,” jelasnya.(Suhanda)





















