megaswaranews.com, Sukabumi – Anggota Komisi II DPR RI, Heri Gunawan melakukan inspeksi mendadak (sidak) untuk membedah anatomi program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi program andalan Presiden Prabowo Subianto. Bukan sekadar meninjau hasil jadi, kegiatan juga untuk menelisik setiap inci proses, mulai dari asal-usul bahan baku hingga urusan limbah.
Sidak yang dilaksanakan Komisi II DPR RI tersebut dilaksanakan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) 01 Mangkalaya, Desa Mangkalaya, Kecamatan Gunungguruh, Kabupaten Sukabumi, Selasa (5/5/2026) dini hari.
Heri Gunawan dalam hal ini, melihat proses dapur produksi secara langsung. Langkah ini diambil guna memastikan transparansi program kepada publik.
“Kita ingin semua transparan agar program yang bagus ini benar-benar dirasakan manfaatnya. Kami melibatkan relawan, struktural partai, hingga masyarakat umum untuk melihat sendiri bagaimana proses pengerjaan, tata cara memasak, hingga kebersihan dapurnya, “ujar Heri Gunawan.
Sementara, Ketua Yayasan Tidar Biru Sejahtera sekaligus Mitra SPPG Mangkalaya 01, Sayyid Agil mengungkapkan bahwa dapur pacu di balik operasional harian. Ternyata, dapur ini bukan sekadar tempat memasak biasa. Ia mengklaim SPPG tersebut adalah pionir di wilayah Kecamatan Gunungguruh yang telah beroperasi selama delapan bulan dengan sertifikasi lengkap.
“Dapur ini melibatkan 50 tenaga kerja, dan 90 persennya adalah warga lokal yang tinggal dalam radius 500 meter. Di sini kami memiliki dua head chef bersertifikat BNSP, serta telah mengantongi sertifikat laik higiene, halal, ISO, OHSAS, hingga HACCP, “kata Sayyid Agil.
Setiap hari, dapur ini bertanggung jawab atas pemenuhan gizi 2.857 penerima manfaat. Sasaran mereka luas, mulai dari siswa TK, SD (golongan satu dan dua), hingga ibu hamil, menyusui, dan balita.
Tantangan terbesar ternyata bukan pada urusan teknis memasak, melainkan dinamika sosial di era digital. Sayyid mengakui bahwa media sosial sering kali menjadi wadah kritik bagi orang tua siswa, namun terkadang tanpa memberikan solusi konkret.
“Terkadang anaknya tidak rewel, tapi orang tuanya yang meng-up ke media sosial. Kami terus membangun komunikasi dengan PIC sekolah untuk menerima masukan tertulis guna perbaikan kualitas. Buktinya, hingga hari ini tidak ada satu pun penerima manfaat yang pindah dapur, justru banyak yang ingin bergabung karena menu kami dianggap paling oke, “pungkasnya. (Lison)















