megaswaranews.com – Ada kalanya manusia tidak membutuhkan banyak kata untuk mengakui kesalahannya.
Cukup dengan sebuah pengakuan sederhana, tidak merasa pantas mendapatkan surga, tetapi juga takut menghadapi neraka.
Pengakuan itu tertuang dalam syair yang hingga kini begitu akrab di telinga umat Islam, yaitu :
Ilahi lastu lil firdausi ahla
Wa la aqwa ‘ala naril jahimi
“Ya Tuhanku, aku tidak pantas menjadi penghuni surga-Mu, dan aku tidak kuat menahan panasnya api neraka.”
Syair yang dikenal luas dengan nama Ilahilastulilfirdaus atau Al-I’tiraf itu kerap dilantunkan di masjid, musala, pesantren, dan majelis-majelis keagamaan.
Bagi sebagian orang, lantunannya mungkin terdengar biasa karena sudah begitu sering didengar.
Namun, jika diperhatikan lebih dalam, syair tersebut sebenarnya berbicara tentang sesuatu yang sangat manusiawi, rasa bersalah.
Di situlah nama Abu Nawas selalu menarik perhatian.
Abu Nawas, atau Abu Ali al-Hasan bin Hani al-Hakami, merupakan penyair yang hidup pada masa Kekhalifahan Abbasiyah sekitar abad ke-8 hingga awal abad ke-9.
Ia dikenal sebagai penyair besar dengan kehidupan yang penuh warna.
Namanya bahkan lebih populer di Indonesia melalui berbagai cerita jenaka tentang kecerdikan menghadapi raja dan para pejabat. Padahal, Abu Nawas yang tercatat dalam sejarah bukan sekadar tokoh lucu dalam dongeng.
Ia adalah seorang penyair yang menulis tentang kehidupan manusia dengan segala sisinya.
Ada kritik, cinta, kesenangan, kebebasan, hingga persoalan spiritual.
Dan ketika nama Abu Nawas dikaitkan dengan Ilahilastulilfirdaus, yang muncul adalah sisi manusia yang berbeda.
Bukan Abu Nawas yang sedang memenangkan adu kecerdikan. Hilang juga Abu Nawas yang katanya pemabuk dan pelaku maksiat.
Bukan pula Abu Nawas yang membuat seorang raja kehabisan jawaban.
Melainkan seorang manusia yang mengakui keterbatasannya di hadapan Tuhan.
Bait pertama syair itu bahkan tidak dimulai dengan klaim kesalehan.
Sebaliknya, ia dimulai dengan ketidakmampuan.
“Ilahi lastu lil firdausi ahla...”
“Wahai Tuhanku, aku tidak pantas menjadi penghuni surga.”
Kalimat tersebut terasa kuat justru karena tidak mencoba menyembunyikan kelemahan manusia.
Kemudian dilanjutkan:
“Wa la aqwa ‘ala naril jahimi.”
“Aku juga tidak kuat menghadapi api neraka.”
Di antara harapan terhadap surga dan ketakutan terhadap neraka, manusia ditempatkan pada posisi yang sangat sederhana, mengakui bahwa dirinya membutuhkan ampunan.
Barangkali karena itulah syair ini bertahan begitu lama.
Manusia pada zaman Abu Nawas tentu berbeda dengan manusia hari ini. Teknologi berubah. Kota berubah. Cara manusia berkomunikasi berubah.
Tetapi rasa bersalah, penyesalan, ketakutan, dan keinginan untuk mendapatkan pengampunan tetap sama.
Seseorang yang baru saja menyadari kesalahannya masih bisa merasakan kegelisahan yang sama.
Seseorang yang merasa hidupnya terlalu jauh dari nilai-nilai agama masih bisa merasakan ketakutan yang sama.
Dan seseorang yang ingin kembali kepada Tuhan masih membutuhkan harapan yang sama.
Syair Ilahilastulilfirdaus seolah menyediakan ruang untuk semua perasaan itu.
Tidak menggurui. Tidak menghakimi.
Hanya mengingatkan bahwa manusia memiliki kelemahan dan bahwa pintu pengampunan selalu menjadi sesuatu yang dicari.
Menariknya, Abu Nawas sendiri dalam sejarah sastra Arab dikenal sebagai sosok yang kompleks. Ia tidak selalu digambarkan sebagai seorang yang hidup dalam kesalehan sepanjang waktu.
Justru perjalanan hidup dan karya-karyanya memperlihatkan berbagai sisi manusia.
Karena itu, kisah Abu Nawas menjadi semakin menarik ketika dipertemukan dengan syair pertobatan tersebut.
Dari seorang penyair yang dikenal dengan karya-karya duniawi, muncul gambaran seorang manusia yang menundukkan diri di hadapan Tuhan.
Di Indonesia, warisan itu kemudian menemukan kehidupan baru.
Syairnya dilantunkan dengan berbagai irama. Sebagian orang mungkin tidak mengetahui sejarah lengkap Abu Nawas.
Tidak semua pula mengetahui apakah setiap kisah tentang dirinya benar-benar terjadi.
Tetapi mereka mengenal satu kalimat yang terasa dekat dengan kehidupan mereka sendiri.
“Ya Allah, aku tidak pantas masuk surga-Mu…”
Kalimat itu bisa terdengar berbeda bagi setiap orang. Bahkan Abdurrahman Wahid atau Gus Dur juga ikut melantunkan syair ini dengan suara khasnya.
Bagi seorang anak, mungkin hanya sebuah kalimat yang diajarkan di pesantren.
Bagi orang yang sedang belajar memperbaiki diri, ia bisa menjadi pengingat.
Bagi seseorang yang merasa telah melakukan banyak kesalahan, ia mungkin menjadi sebuah doa.
Dan bagi mereka yang sedang berada di penghujung perjalanan hidup, syair itu bisa terasa seperti sebuah pengakuan terakhir seorang manusia kepada Tuhannya.
Lebih dari seribu tahun telah berlalu sejak Abu Nawas hidup.
Namun setiap kali Ilahilastulilfirdaus dilantunkan, jarak waktu itu seolah menghilang.
Yang tersisa hanyalah seorang manusia yang berbicara kepada Tuhannya.
Tentang dosa. Tentang ketakutan. Tentang ketidakmampuan.
Dan terutama tentang harapan untuk diampuni.
Mungkin itulah alasan mengapa Abu Nawas belum benar-benar pergi.
Ia tidak hanya tinggal dalam cerita tentang kecerdikan dan humor.
Namanya juga hidup dalam bait-bait pengakuan yang terus dilantunkan dari generasi ke generasi.
Sebab pada akhirnya, manusia mungkin berubah dalam banyak hal.
Tetapi kebutuhan untuk memohon ampun kepada Tuhan tetap sama.
Dan Ilahilastulilfirdaus adalah salah satu cara manusia mengucapkannya.
(Edwin S)














