megaswaranews.com, Lebak – Perjalanan menuju Kampung Kasepuhan Jamrut, Desa Wangunjaya, Kecamatan Cigemblong, Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, menjadi pengalaman yang tak terlupakan bagi kami.
Pada 22 Agustus 2026, tepat pukul 14.00 WIB, kami bertolak dari Bogor menuju wilayah adat yang berada di kawasan pedalaman Lebak Selatan.
Perjalanan memakan waktu sekitar delapan jam. Jalanan berkelok, menanjak, menurun, serta minim penerangan menjadi tantangan tersendiri.
Di beberapa titik, hanya cahaya lampu kendaraan yang menemani perjalanan menembus gelapnya malam dan lebatnya hutan yang mengelilingi kawasan tersebut.
Sekitar pukul 22.00 WIB, rombongan akhirnya tiba di Kampung Kasepuhan Jamrut. Meski malam telah larut, sambutan hangat langsung terasa dari masyarakat adat yang telah menunggu kedatangan kami.
Di kampung tersebut, kami disambut oleh Olot Marja selaku Ketua Adat Kasepuhan Jamrut, Bengkong Jiman sebagai Jurubasa, Amil Sadli tokoh kasepuhan, Hani yang menjabat Wakil Jurubasa, RT Sata, Pangiwa Arkim, serta Atang dan sejumlah warga lainnya.

Suasana kekeluargaan begitu terasa. Obrolan mengenai sejarah kampung, adat istiadat, hingga kehidupan masyarakat berlangsung hangat di tengah udara malam yang sejuk.
Keramahan masyarakat adat membuat rasa lelah selama perjalanan seakan hilang begitu saja.
Bagi masyarakat Kasepuhan Jamrut, hutan bukan sekadar hamparan pepohonan. Hutan adat merupakan sumber kehidupan yang telah diwariskan turun-temurun oleh leluhur mereka.
Dari kawasan hutan itulah masyarakat memperoleh air, hasil pertanian, serta berbagai kebutuhan hidup lainnya.
Hubungan masyarakat dengan alam juga dibangun melalui aturan adat yang ketat. Mereka meyakini bahwa menjaga hutan sama dengan menjaga kehidupan.
Karena itu, pemanfaatan sumber daya alam dilakukan secara bijaksana agar tetap lestari untuk generasi berikutnya.
Kehidupan masyarakat Kasepuhan Jamrut adalah gambaran nyata bagaimana kearifan lokal masih terjaga di tengah arus modernisasi.
Tradisi, budaya, dan penghormatan terhadap alam tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari mereka.
Perjalanan ini diikuti oleh Jemi Adrianto, Iwan Sasmita, dan Acep Sugari, yang memiliki ketertarikan terhadap budaya, tradisi, serta kearifan lokal masyarakat adat.
Kunjungan tersebut bukan hanya menjadi perjalanan fisik menuju pelosok Lebak, tetapi juga perjalanan untuk memahami nilai-nilai kehidupan yang masih dijaga kuat oleh masyarakat Kasepuhan Jamrut.
Di tengah derasnya perubahan zaman, masyarakat Kasepuhan Jamrut membuktikan bahwa menjaga tradisi dan merawat alam bukanlah sesuatu yang kuno.
Justru dari hutan adat yang mereka lindungi, tersimpan pelajaran berharga tentang harmoni antara manusia dan alam yang semakin relevan untuk masa kini. (Edwin S)














