megaswaranews.com, DRAMAGA — Kasus dugaan keracunan makanan yang menimpa pelajar di wilayah Kecamatan Dramaga terus ditangani secara menyeluruh oleh pemerintah daerah. Sejak siang hingga malam, Puskesmas Dramaga menjadi pusat pemantauan dan penanganan korban.
Dari data yang terhimpun, total 24 orang terdiri dari siswa dan satu orang guru menjalani observasi medis. Mereka berasal dari SDN Ciherang Kosong I (19 orang), SDN Ciherang Kosong II (1 orang), SDIT Darul Hijri (2 orang), dan Posyandu (1 orang). Setelah hampir enam jam pemantauan, satu orang telah diperbolehkan pulang. Secara umum kondisi korban mulai membaik, meski sebagian masih mengeluhkan mual dan muntah. Kamis malam (7/8)
Semua makanan yang dikonsumsi korban berasal dari dapur penyedia yang sama, yaitu SPPG Dramaga Ciherang Kosong II. Jenis makanan yang disajikan meliputi nasi putih, terong balado, tempe goreng, tumis wortel jagung, brokoli, dan buah anggur. Sampel makanan telah diamankan dan dikirim untuk pemeriksaan laboratorium, yang hasilnya diperkirakan baru diketahui dalam 2–3 hari ke depan guna memastikan apakah bahan makanan tercemar atau tidak.
Sekretaris Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor, Irman Gapur memberikan apresiasi penuh atas gerak cepat Dinas Kesehatan, Puskesmas Dramaga, Camat, BPBD, dan seluruh pihak yang langsung turun ke lokasi. “Prioritas utama adalah menyelamatkan anak-anak yang menjadi korban. Langkah ini sudah tepat dan harus terus dipantau,” ujarnya.
Ia menegaskan, apabila hasil laboratorium membuktikan keracunan berasal dari makanan yang disiapkan dapur penyedia, maka sanksi tegas sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) wajib dijatuhkan. “Program penyediaan gizi bagi siswa sejatinya sangat baik. Namun jika justru membahayakan kesehatan anak-anak, hal ini tidak dapat dibiarkan. Pengawasan ke depan harus jauh lebih ketat, SOP pun harus diperketat agar peristiwa serupa tidak terulang,” tegasnya.
Terkait kegiatan belajar di sekolah-sekolah terdampak, Sekdis Kesehatan menyerahkan kebijakan teknis kepada Dinas Pendidikan, mengingat tidak hanya siswa tetapi juga seorang guru ikut terdampak. Jika terbukti dapur penyedia lalai atau melanggar standar keamanan pangan, maka dapat ditutup sementara sambil menunggu proses pemeriksaan dan penetapan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.
Sementara itu, Ketua Komisi IV DPRD Kabupaten Bogor, Wasto yang turun langsung ke lokasi menyampaikan harapan agar penanganan kasus serupa ke depannya dapat berjalan lebih cepat. “Meskipun hasil uji laboratorium memerlukan waktu 2–3 hari, namun proses penyelidikan dan pengambilan keputusan diharapkan dapat dipersingkat agar tidak menimbulkan keragu-raguan berkepanjangan di masyarakat,” ujarnya.
Pihak Puskesmas Dramaga tetap bersiaga 24 jam. Warga dan keluarga siswa diimbau segera membawa ke Puskesmas Dramaga siapa saja yang setelah makan siang kemarin mengalami gejala mual, pusing, mencret, atau muntah. Sementara itu, pihak SPPG diminta melakukan evaluasi menyeluruh terhadap seluruh proses pengolahan, penyimpanan, dan penyajian makanan guna menjamin keamanan dan keselamatan gizi yang dikonsumsi para siswa. (manabd)















