megaswaranews.com, CIOMAS – Sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah dan leluhur, dilaksanakan pengambilan air dari sumber mata air Ciburial dan tanah dari makam Mbah Guntur Aryawisesa di Desa Ciomas, Kecamatan Ciomas. Kedua unsur bersejarah ini selanjutnya diserahkan kepada panitia pelaksana Helaran Budaha dalam puncak peringatan Hari Jadi Bogor (HJB) ke-544.
Camat Ciomas, Tirta Juwarta, Menjelaskan Tanah dari makam leluhur ini memiliki makna yang mendalam. Keduanya menjadi simbol akar peradaban, keberkahan, serta warisan budaya yang menjadi cikal bakal berdirinya Kabupaten Bogor. Penyerahan ini menjadi bagian penting dalam rangkaian acara HJB sebagai pengingat agar generasi sekarang tidak melupakan asal-usul dan perjuangan para pendahulu.
“Kami melaksanakan kegiatan ini sebagai wujud cinta tanah air dan pelestarian nilai sejarah. Air dan tanah ini adalah bagian dari identitas kita. Semoga penyerahan ini membawa berkah dan menjadi semangat bagi kita semua untuk melanjutkan perjuangan membangun Kabupaten Bogor menjadi lebih maju dan sejahtera,” ujarnya

Menelusuri Jejak Sejarah, Asal Usul dan Silsilah Mbah Guntur Aryawisesa di Ciomas
Sebuah prasasti yang terawat baik di kawasan Ciomas mengungkapkan kisah sejarah dan silsilah tokoh penting yang berperan dalam penyebaran agama Islam di wilayah tersebut. Prasasti berjudul “Asal Usul/Silsilah Mbah Guntur Aryawisesa” ini menjadi saksi bisu perjalanan hidup dan perjuangan leluhur yang dihormati masyarakat setempat. Rabu (17/6/2026)
Berdasarkan keterangan yang terukir di prasasti, Mbah Guntur memiliki nama asli Mbah Sakti Aryawisesa. Beliau berasal dari wilayah Banten, kemudian menetap di Kampung Margabakti , yang kini masuk dalam wilayah Kecamatan Ciomas, Kabupaten Bogor.
Disebutkan bahwa Mbah Guntur datang ke wilayah ini dengan misi suci: menyebarkan ajaran agama Islam. Beliau diamanahkan untuk menjadi seorang wali yang menyiarkan dakwah dan mengajarkan nilai-nilai keislaman kepada masyarakat setempat. Berkat keteladanan dan kebijaksanaannya, beliau kemudian diakui dan dihormati sebagai sesepuh yang dihormati di Ciomas, dengan pusat kegiatan dan kediamannya berada di Kampung Margabakti.
Prasasti tersebut juga mencatat bahwa tokoh ini wafat pada tahun 1513 Masehi. Hingga kini, makam dan jejak sejarahnya masih dikunjungi dan dihormati oleh warga sekitar maupun peziarah dari berbagai daerah, sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasanya dalam meletakkan dasar kehidupan beragama dan bermasyarakat di wilayah tersebut.

Kehadiran prasasti ini menjadi bukti otentik bahwa Kecamatan Ciomas memiliki peran penting dalam sejarah penyebaran Islam di wilayah Bogor. Selain dikenal sebagai salah satu dari sembilan kampung pendiri Kabupaten Bogor, Ciomas juga menyimpan warisan sejarah dakwah yang menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas budaya dan spiritual masyarakatnya.
Pemerintah Kecamatan Ciomas dan masyarakat setempat terus berupaya merawat dan melestarikan situs bersejarah ini, agar kisah perjuangan Mbah Guntur Aryawisesa dapat terus diketahui dan menjadi teladan bagi generasi penerus, sekaligus menjadi aset sejarah yang memperkaya khazanah budaya Kabupaten Bogor.
Kontribusi ini juga menjadi bukti partisipasi aktif masyarakat Ciomas dalam memeriahkan peringatan hari jadi daerah. “Semoga air dan tanah ini menjadi pengingat bahwa kemajuan yang kita raih hari ini tidak lepas dari jasa para leluhur. Mari kita jaga persatuan dan terus membangun dengan semangat warisan budaya yang ada,” tambah camat ciomas.
Air dan tanah tersebut selanjutnya akan dibawa dan diserahkan secara resmi dalam Helaran Budaya sebagai rangkaian puncak peringatan HJB ke-544 Kabupaten Bogor tanggal 28/6/2026 mendatang.















