megaswaranews.com, Sukabumi – Puluhan hektare sawah di Desa Kertamukti, Kecamatan Warungkiara, Kabupaten Sukabumi terancam gagal tanam akibat kekeringan.
Saluran irigasi Daerah Irigasi (DI) Warungkiara Kecamatan Warungkiara Kabupaten Sukabumi Provinsi Jawa Barat, yang seharusnya mengaliri lahan pertanian tak mampu menjangkau wilayah hilir. Kondisi memprihatinkan dialami para petani di Desa Kertamukti.
Sawah yang baru ditanami kini mulai retak akibat kekurangan air. Aliran irigasi dari DI Warungkiara panjang 9 km yang melintasi 3 Desa, yakni Desa Ubrug, Bojongkerta, hingga Kertamukti, tidak mengalir optimal hingga ke wilayah hilir.
Saluran irigasi, baik tersier maupun sekunder, dilaporkan tidak mampu mengalirkan air secara maksimal. Akibatnya, puluhan hektare lahan pertanian di hilir terdampak kekeringan.
Ironisnya, persoalan ini diperparah dengan kondisi saluran irigasi yang dipenuhi sampah, terutama di wilayah Kampung Sorog, Desa Bojongkerta. Minimnya kesadaran masyarakat di sepanjang jalur irigasi disebut menjadi salah satu penyebab utama tersendatnya aliran air.
Pantauan awak media di lapangan, Selasa, (31/3/2026), menunjukkan tumpukan sampah menghambat aliran air.
Puluhan petani dari Desa Kertamukti pun turun tangan bergotong-royong melakukan pembersihan secara manual dengan peralatan seadanya seperti cangkul, garok, hingga alat potong rumput.
Salah satu petani Desa Kertamukti, Karim mengungkapkan kekecewaannya terhadap kondisi tersebut. Menurutnya, petani di wilayah hilir rutin melakukan gotong royong, namun tidak diimbangi oleh warga di sepanjang jalur irigasi.
“Setiap musim kami selalu kerja bakti membersihkan sampah. Tapi warga di sepanjang jalur irigasi jarang ikut terlibat. Bahkan hampir satu musim ini tidak ada kegiatan gotong royong, jadi sampah menumpuk,” ujarnya.
Karim juga menyoroti belum adanya realisasi program bantuan untuk perbaikan irigasi yang sebelumnya sempat diinformasikan akan turun ke DI Warungkiara.
“Sempat ada kabar akan ada bantuan program Inpres irigasi, tapi sampai sekarang belum ada kejelasan,” tambahnya.
Para petani berharap pemerintah dan instansi terkait segera turun tangan melakukan normalisasi saluran irigasi, sekaligus memberikan solusi jangka panjang agar distribusi air bisa merata hingga ke wilayah hilir.
Jika tidak segera ditangani, kondisi ini dikhawatirkan berdampak pada gagal panen dan merugikan para petani secara ekonomi.
Permasalahan irigasi di Warungkiara menjadi alarm serius bagi pemerintah daerah. Dibutuhkan langkah cepat dan kolaboratif, tidak hanya dari pemerintah, tetapi juga kesadaran masyarakat untuk menjaga kebersihan saluran irigasi demi keberlangsungan pertanian. (Lison)















