megaswaranews.com – Malam belum berganti pagi ketika suara tembakan memecah kesunyian rumah keluarga Jenderal A.H. Nasution di Jalan Teuku Umar, Jakarta.
Di tengah kepanikan itu, seorang anak berusia lima tahun menjadi korban. Namanya Ade Irma Suryani Nasution.
Ade Irma lahir di Jakarta pada 19 Februari 1960, putri bungsu A.H. Nasution dan Johanna Sunarti. Usianya baru lima tahun ketika peristiwa 1 Oktober 1965 mengubah hidup keluarganya untuk selamanya.
Pasukan bersenjata datang ke rumah A.H. Nasution untuk mencari sang jenderal.
Dalam situasi yang kacau, Mardiah, adik A.H. Nasution, menggendong Ade Irma untuk membawanya ke tempat yang lebih aman.
Namun ketika melewati sebuah pintu, tembakan kembali dilepaskan.
Tiga peluru mengenai punggung Ade Irma. Mardiah juga terkena tembakan.
Tubuh kecil itu terluka parah. Namun Ade Irma masih dalam keadaan sadar.
Dalam kesaksian yang kemudian dikutip sejumlah media, Ade Irma disebut sempat bertanya kepada ayahnya.
“Papa, Ade salah apa? Kenapa Ade ditembak?”
Pertanyaan itu terdengar sederhana.
Tetapi di baliknya ada kepolosan seorang anak yang belum memahami pertarungan politik, kekuasaan, ataupun kekerasan yang sedang terjadi di sekeliling keluarganya.
Ade Irma kemudian dilarikan ke RSPAD Gatot Soebroto untuk mendapatkan perawatan.
Di rumah sakit, ibunya, Johanna Sunarti, terus mendampingi.
Sang ibu bertanya:
“Ade, masih hidup?”
Ade menjawab:
“Hidup, Mama.”
Ibunya kembali bertanya:
“Ade hidup terus?”
“Hidup terus, Mama.”
“Ade masih kuat?”
“Masih, Ma.”
Hari-hari berikutnya menjadi perjuangan bagi Ade Irma.
Namun di tengah sakit yang dideritanya, ia masih memikirkan kakaknya.
Ketika melihat sang kakak menangis di samping tempat tidurnya, Ade Irma disebut berusaha menenangkan:
“Kakak jangan menangis, Adik sehat.”
Ia juga disebut sempat bertanya kepada ibunya,
“Kenapa Ayah mau dibunuh, Mama?”
Pertanyaan itu menjadi salah satu bagian paling mengharukan dari kisah Ade Irma.
Seorang anak berusia lima tahun mencoba memahami mengapa ayahnya diburu, mengapa rumahnya dipenuhi suara tembakan, dan mengapa dirinya sendiri harus menanggung luka.
Lima hari setelah tertembak, perjuangan Ade Irma berakhir.
Pada 6 Oktober 1965, Ade Irma Suryani Nasution meninggal dunia.
Usianya baru lima tahun.
Ia dimakamkan pada 7 Oktober 1965.
Kepergiannya meninggalkan luka mendalam bagi keluarga A.H. Nasution. Di makamnya, sang ayah menuliskan kalimat,
“Anak saya yang tercinta, engkau telah mendahului gugur sebagai perisai ayahmu.”
Namun kematian tidak membuat nama Ade Irma ikut terkubur.
Namanya kemudian diabadikan di berbagai tempat. Nama Ade Irma Suryani Nasution digunakan pada sejumlah lembaga pendidikan, sementara namanya juga menjadi bagian dari nama jalan dan ruang publik di sejumlah daerah.
Puluhan tahun berlalu.
Anak kecil yang pada 1965 bertanya mengapa dirinya ditembak itu kini tinggal dalam ingatan sejarah.
Namanya dikenang di tempat anak-anak belajar, di ruang publik, dan dalam cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Ade Irma tidak pernah memahami mengapa dirinya menjadi korban.
Tetapi satu pertanyaannya tetap hidup,,
“Papa, Ade salah apa? Kenapa Ade ditembak?”















