megaswaranews.com, CARINGIN – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang terjadi belakangan ini mulai memberikan dampak nyata pada sektor pangan di tingkat akar rumput. Salah satu yang paling merasakan dampaknya adalah para perajin tahu di Desa Cidereum, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Kenaikan harga kedelai impor yang terus merangkak naik memicu pembengkakan biaya produksi, sehingga menimbulkan kekhawatiran mendalam bagi kelangsungan usaha mereka. Sabtu (13/6/2026)
Berdasarkan pantauan di lapangan, dalam kurun waktu satu minggu terakhir saja, harga kedelai impor mengalami kenaikan yang cukup signifikan. Jika sebelumnya para pengrajin bisa memperoleh pasokan kedelai dengan harga rata-rata Rp10.000 per kilogram, kini mereka harus mengeluarkan biaya lebih besar, yaitu mencapai Rp12.000 per kilogram. Kenaikan sebesar Rp2.000 per kilogram ini terlihat kecil, namun jika dikalkulasikan dengan kebutuhan bahan baku yang mencapai puluhan hingga ratusan kilogram setiap harinya, dampaknya sangat terasa pada struktur biaya produksi.

Pengrajin Tahu, Ade mengatakan Ketergantungan yang tinggi terhadap kedelai impor menjadi tantangan utama bagi para pengrajin di wilayah ini. Sebagaimana diketahui, hingga saat ini kebutuhan kedelai nasional masih sebagian besar dipenuhi melalui jalur impor, terutama dari Amerika Serikat. Akibatnya, setiap kali terjadi gejolak nilai tukar mata uang atau perubahan kondisi pasar global, harga di tingkat lokal langsung ikut terpengaruh secara cepat.
Kondisi ini membuat para pelaku usaha merasa cemas dan bimbang. Di satu sisi, kenaikan biaya produksi yang terus meningkat menekan keuntungan mereka secara drastis, bahkan ada yang mengaku nyaris tidak mendapatkan laba. Di sisi lain, mereka ragu untuk menaikkan harga jual tahu di pasaran, dikhawatirkan akan membuat konsumen beralih ke makanan lain atau mengurangi daya beli. Jika harga kedelai terus bergerak naik tanpa ada solusi, maka satu-satunya pilihan yang tersisa adalah menaikkan harga jual atau mengurangi ukuran produk, yang keduanya berisiko menurunkan volume penjualan.
“Kami sangat khawatir, Pak. Usaha ini sudah kami jalankan secara turun-temurun dan menjadi tumpuan hidup keluarga. Kalau harga kedelai terus melambung seperti ini tanpa ada solusi, kami takut usaha kami ini terancam gulung tikar dan tidak bisa berproduksi lagi,” ungkap Ade, salah seorang perajin tahu yang telah berkecimpung di bidang ini selama lebih dari 15 tahun.

Ia menambahkan, selama ini mereka berusaha mempertahankan kualitas dan harga jual agar tetap terjangkau warga. Namun, tekanan biaya bahan baku yang tidak terkontrol membuat posisi mereka semakin sulit. “Kami berharap ada perhatian dan langkah nyata dari pemerintah, baik itu melalui pengendalian harga, penyaluran subsidi, maupun upaya meningkatkan produksi kedelai lokal agar ketergantungan pada impor bisa dikurangi. Kalau ada kepastian harga, kami pun bisa merencanakan usaha dengan lebih tenang,” harapnya.
Sampai saat ini, para pengrajin masih bertahan dengan memangkas keuntungan seminimal mungkin agar tetap bisa melayani pelanggan. Namun, mereka menegaskan bahwa kondisi ini tidak bisa berlangsung selamanya. Jika dalam waktu dekat tidak ada kebijakan yang meringankan beban mereka, maka mau tidak mau penyesuaian harga jual harus dilakukan demi keberlangsungan usaha.
Peristiwa ini kembali menegaskan pentingnya kemandirian pangan nasional. Para pengrajin berharap gejolak harga saat ini dapat menjadi momentum untuk mempercepat program peningkatan produksi kedelai lokal, sehingga di masa mendatang mereka tidak lagi rentan terhadap perubahan nilai tukar dan ketidakstabilan pasar internasional.















