megaswaranews.com, Sukabumi – Kekayaan pengobatan tradisional Sunda mulai terungkap melalui kajian naskah kuno yang dilakukan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Pondok Pesantren Al-Fath. Memasuki tahap keenam, penelitian ini mengangkat tema “Patambaan Siliwangi”, yang menelusuri sistem pengobatan herbal khas Sunda yang selama ini kurang mendapat perhatian.
Kegiatan kajian digelar di Museum Prabu Siliwangi dan difokuskan pada identifikasi serta pengkajian struktur manuskrip kuno. Dari hasil inventarisasi awal, tim peneliti menemukan sedikitnya 29 naskah kuno yang diperkirakan berusia lebih dari setengah abad. Naskah-naskah tersebut dinilai memiliki nilai historis dan keilmuan tinggi serta tergolong sebagai artefak filologis penting.
Salah satu temuan paling menonjol dalam kajian ini adalah adanya pembahasan tentang patambaan atau sistem pengobatan tradisional. Dalam proses terjemahan awal, terungkap lebih dari 25 jenis tanaman khas Sunda yang memiliki khasiat medis dan telah digunakan oleh masyarakat pada masa lampau.
Temuan ini menunjukkan bahwa masyarakat Sunda terdahulu telah memiliki sistem pengobatan herbal yang terstruktur dan berbasis pengetahuan lokal, jauh sebelum berkembangnya pengobatan modern. Berdasarkan kajian sementara, naskah-naskah tersebut diperkirakan berasal dari akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20.
Pimpinan Ponpes Al-Fath, KH. M. Fajar Laksana, mengungkapkan kekagumannya terhadap hasil penelitian tersebut. Ia menyebut bahwa naskah yang telah diterjemahkan membuka wawasan baru tentang kekayaan pengobatan tradisional Sunda.
“Setelah diterjemahkan, ternyata luar biasa. Ditemukan lebih dari 25 jenis tumbuh-tumbuhan khas Sunda yang memiliki khasiat untuk pengobatan sejak zaman dahulu. Ini membuktikan bahwa masyarakat Sunda sudah memiliki ramuan-ramuan obat yang digunakan secara turun-temurun,” ujarnya.
Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa temuan ini sekaligus memperkuat praktik pengobatan tradisional yang masih dijalankannya hingga kini.
Dengan nilai historis yang tinggi, naskah-naskah tersebut berpotensi diajukan sebagai cagar budaya sekaligus warisan budaya tak benda. Upaya ini dinilai penting untuk menjaga keberlangsungan pengetahuan lokal agar tidak hilang ditelan zaman.
Ke depan, penelitian lanjutan akan melibatkan para praktisi pengobatan tradisional. Langkah ini dilakukan agar hasil kajian tidak hanya berhenti di ranah akademik, tetapi juga dapat diimplementasikan secara nyata dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat.
Kajian naskah kuno ini menjadi salah satu upaya strategis dalam mengungkap kembali kearifan lokal yang hampir terlupakan. Diharapkan, hasil penelitian ini mampu menghidupkan kembali nilai-nilai pengobatan tradisional Sunda yang relevan dengan kebutuhan kesehatan masyarakat masa kini.
Reporter : Sofwan Zulfikar















