
Wakil Kepala Badan Gizi Nasional, Sony Sanjaya, menyebut pelatihan ini salah satu syarat penting untuk memperoleh Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS).
Ia menekankan bahwa penjamah makanan bukan hanya juru masak, melainkan seluruh petugas yang terlibat dalam rantai pengolahan makanan.
“Penjamah makanan itu bukan hanya yang memasak. Akan tetapi, mulai dari petugas penerimaan bahan, persiapan, juru masak, pemorsian hingga petugas pencucian peralatan” ujarnya
Selain itu setiap petugas harus memahami standar penanganan bahan makanan yang baik. Misalnya saat menerima bahan baku, petugas harus mampu membedakan kualitas bahan makanan yang masih layak digunakan atau tidak
“itu bagian dari kemampuan teknis yang harus dimiliki,” jelasnya.
“Tujuan program Makan Bergizi Gratis adalah memastikan kelompok rentan mendapatkan asupan gizi yang baik. Ini investasi bagi generasi masa depan bangsa,” sambung nya
Ia juga mengungkapkan hingga saat ini telah terbentuk lebih dari 25 ribu dapur MBG di seluruh Indonesia yang sebagian besar dibangun melalui kolaborasi masyarakat dan mitra.
Namun Sony menegaskan, mitra yang tidak mengurus sertifikasi higiene sanitasi akan dikenakan tindakan tegas.
Kegiatan yang berlangsung selama dua hari, mulai 7 hingga 8 Maret 2023 ini menghadirkan berbagai materi terkait standar pengolahan makanan, sanitasi, hingga penerapan higienitas dalam proses penyajian makanan.
Para peserta juga mendapatkan pembekalan mengenai pentingnya menjaga kualitas makanan agar tetap aman dikonsumsi serta memenuhi standar gizi yang telah ditetapkan.
Melalui kegiatan ini diharapkan para penjamah makanan di lingkungan SPPG dapat meningkatkan kualitas pelayanan, sehingga makanan yang disajikan kepada masyarakat tetap terjaga kebersihan, keamanan, dan nilai gizinya.(Ha)















