megaswaranews.com, BOGOR – Bertani atau berkebun kini tidak lagi harus bergantung pada lahan yang luas. Warga Kota Bogor membuktikan bahwa halaman rumah yang terbatas pun bisa disulap menjadi sumber penghasilan bernilai tinggi melalui usaha budidaya tanaman bonsai.
Salah satu pelaku sukses yang berhasil mengubah hobi menjadi ladang uang adalah Marta Atmaja, atau yang akrab disapa Hantu, warga Kampung Tegal Loceng, RT 04/04, Kelurahan Margajaya, Kecamatan Bogor Barat.
Sejak tahun 2019, tepat saat pandemi COVID-19 melanda, Hantu mulai serius menekuni dunia bonsai. Saat itu, ia melihat halaman rumahnya tampak gersang dan kosong. Ia pun mencari alternatif tanaman yang cocok untuk menghiasi pekarangan, namun sekaligus memiliki nilai ekonomi tinggi. Pilihannya pun jatuh pada seni budidaya bonsai.
Berawal dari modal nekat dan sebatang pohon beringin yang ditemukannya di pinggir jalan raya, ia mulai belajar otodidak cara mengerdilkan batang serta membentuk tanaman agar tampil indah dan bernilai seni. Kini, ketekunannya membuahkan hasil. Koleksi tanamannya telah berkembang pesat menjadi lebih dari 250 pohon bonsai dengan beragam jenis dan karakteristik.
Tidak hanya belajar sendiri, Hantu juga aktif bergabung dengan komunitas pencinta bonsai, termasuk Persatuan Penggemar Bonsai Indonesia (PPBI) Cabang Bogor. Berkat berbagi ilmu dan wawasan bersama sesama penghobi, kemampuannya dalam merawat dan membentuk tanaman semakin terasah.
Bersama rekan-rekannya seperti Bily, July, dan Erus, ia kerap melakukan perjalanan jauh hingga ke daerah pedalaman dan lereng gunung. Tujuannya tak lain untuk mencari bonggol atau tunas tanaman liar yang berpotensi bagus, kemudian dibawa pulang untuk dibudidayakan, dibentuk, dan dijadikan barang dagangan bernilai jual tinggi.

“Kalau sedang ada waktu luang, kami suka berpetualang mencari bahan bonsai langsung di alam liar. Bahan-bahan tersebut kemudian kami kembangkan dan bentuk. Selain hobi, hasilnya tentu mendatangkan keuntungan yang lumayan,” ungkap Hantu.
Dari sisi bisnis, bonsai terbukti memiliki pasar yang cukup menjanjikan dengan kisaran harga yang beragam. Untuk jenis ukuran mini yang paling banyak diminati konsumen, harga jualnya berkisar antara Rp50.000 hingga Rp150.000 per pohon.
Sementara itu, untuk jenis tanaman tertentu yang memiliki bentuk unik, karakter langka, dan kualitas istimewa, harganya bisa melonjak fantastis. Nilai jualnya mampu mencapai angka Rp3 juta hingga Rp5 juta per pohon.
Menurut Hantu, nilai harga yang tinggi tersebut sangat sebanding dengan proses pembuatannya yang tidak mudah. Membentuk bonsai adalah sebuah seni yang membutuhkan kesabaran luar biasa dan ketelitian tinggi. Mulai dari pembentukan akar, pemangkasan dahan dan daun, hingga penataan struktur cabang agar menjadi karya estetika yang utuh dan indah dipandang.
Selain bentuk dan usia tanaman, harga mahal juga dipengaruhi oleh faktor pendukung lain, seperti perawatan yang teliti, teknik pemangkasan yang rumit, hingga penggunaan pot dan alat penunjang yang sebagian besar dibuat secara tangan atau handmade. Bahkan, dalam perawatannya pun media tanam harus disesuaikan dengan jenis tanaman agar tumbuh maksimal.
“Untuk jenis bonsai biasa saya gunakan campuran pasir sungai. Namun, untuk jenis langka dan bernilai tinggi, media tanam harus lebih spesifik, misalnya menggunakan pasir malang agar akar dan batang tumbuh lebih kokoh dan sehat,” jelasnya.
Lebih jauh, Hantu menilai bahwa semakin tingginya minat masyarakat terhadap bonsai telah membuka ekosistem usaha yang luas. Bisnis ini tidak hanya menguntungkan bagi para pembudidaya, tetapi juga turut menggerakkan roda ekonomi bagi banyak pihak lain. Mulai dari pengrajin pot tanah liat, penyedia alat berkebun, tenaga pelatihan pembentukan tanaman, hingga jasa pengantaran.
Ke depannya, Hantu memiliki harapan besar untuk terus mengembangkan usahanya. Ia berkeinginan memperluas lahan budidaya agar koleksinya semakin bertambah banyak dan bervariasi.
Ia juga berambisi untuk mengoleksi lebih banyak jenis tanaman unggulan, seperti Santigi, Waru, Wacan, Sancang, Asam Jawa, hingga Serut. Tujuannya agar karya-karya bonsai buatannya nanti dapat diikutsertakan dalam berbagai ajang perlombaan dan pameran berskala nasional, sehingga namanya semakin dikenal di kalangan penggemar bonsai tanah air. (mande)















