Megaswaranws.com, Kota Sukabumi — Pemerintah Kota Sukabumi menghentikan sementara kegiatan belajar tatap muka di sejumlah sekolah sebagai langkah antisipasi dampak sebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau. Selama satu hingga dua hari ke depan, pembelajaran dialihkan menjadi Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ).
Kebijakan tersebut diumumkan Wali Kota Sukabumi, Ayep Zaki, pada Senin (8/9/2026), setelah abu vulkanik terpantau memasuki wilayah Kota Sukabumi. Langkah ini diambil untuk melindungi kesehatan siswa, guru, dan tenaga kependidikan dari paparan debu vulkanik.
Ayep Zaki menegaskan bahwa sekolah tidak diliburkan, melainkan proses belajar mengajar tetap berlangsung secara daring sambil menunggu perkembangan kondisi lingkungan.
“Karena situasi debu, pembelajaran bukan diliburkan, tetapi dialihkan menjadi pembelajaran jarak jauh secara online. Kita akan melihat perkembangan satu hingga dua hari ke depan, mudah-mudahan debunya mereda dan kembali normal,” ujar Ayep Zaki.
Menurutnya, meski dampak abu vulkanik di Kota Sukabumi belum tergolong signifikan, pemerintah memilih menerapkan prinsip kehati-hatian mengingat sebagian besar aktivitas pendidikan dilakukan di luar ruangan.
Selain sektor pendidikan, Ketua Tim Penggerak PKK Kota Sukabumi, Ranty Rachmatilah, mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak kesehatan akibat abu vulkanik. Ia meminta warga, khususnya anak-anak, selalu mengenakan masker saat beraktivitas di luar rumah.
“Kondisi saat ini sedang tidak baik-baik saja karena debu vulkanik menyebar di mana-mana. Mari kita gunakan masker karena debu vulkanik berbeda dengan debu biasa dan mengandung silika yang dapat mengganggu saluran pernapasan,” kata Ranty.
Pemerintah Kota Sukabumi memastikan akan terus memantau perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau dan sebaran abu vulkanik. Kebijakan PJJ akan dievaluasi secara berkala hingga kondisi dinyatakan aman untuk kembali melaksanakan pembelajaran tatap muka.
(Sofwan Zulfikar )















