megaswaranews.com, DRAMAGA, KABUPATEN BOGOR – Suasana haru, bahagia dan penuh kebersamaan menyelimuti lingkungan DKM Masjid Nurul Falah, Situ Leutik, wilayah RT 03/06 Desa Dramaga Kecamatan Dramaga Kabupaten Bogor, saat ribuan warga merayakan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Di tengahnya, tradisi legendaris “Dongdang” kembali digelar, menjadi bukti hidupnya rasa cinta, persaudaraan, dan kebersamaan seluruh lapisan masyarakat, dari warga sekitar hingga tamu yang datang jauh dari luar daerah. Selasa (25/8/2026)
Semangat kegiatan ini terasa makin istimewa karena diselenggarakan atas kerja sama penuh antar‑unsur: tokoh agama, tokoh masyarakat, pemuda, dan seluruh warga binaan masjid yang dipimpin langsung oleh pengurus DKM Nurul Falah.
Ketua DKM Nurul Falah, Ilham Muslim, melaporkan hasil luar biasa yang diraih tahun ini.
“Alhamdulillah untuk tahun ini kita mencukupi sebagaimana yang kita harapkan. Hasil dari rapat kita bersama, kita berusaha mengumpulkan sebanyak‑banyaknya 850 Bongsang di antaranya 7 Dongdang besar yang setara dengan 550 bungkusan dan semuanya, alhamdulillah, sudah lengkap dan terpenuhi!”
Mengenai siapa saja yang hadir dan turut meramaikan
“Yang datang memang dari sekitar Dramaga, tapi ada juga yang datang dari jauh seperti Jasinga, Cibinong, hingga Cijeruk. Selalu saja ada yang menarik dan baik setiap tahunnya—tradisi ini makin dikenal dan makin dirindukan orang.”
Ia pun tak lupa menyampaikan rasa syukur dan terima kasih yang mendalam,
“Semua ini berkat kerja sama kita semua—tokoh agama, tokoh masyarakat, tokoh muda, dan seluruh warga. Alhamdulillah, kami ucapkan terima kasih sebesar‑besarnya. Semoga Allah SWT membalas semua amal kebaikan kalian dengan pahala yang berlipat ganda.”
makna di balik kegiatan ini, Ilham Muslim menjelaskan dengan tulus hati,

“Makna Maulid itu supaya kita makin mencintai Allah dan Rasul‑Nya. Pertama‑tama kita ingin mengenalkan kepada anak‑anak dan generasi muda kita supaya mereka tahu dan bangga bahwa kita punya tradisi indah yang bermakna cinta kepada Allah dan Rasul‑Nya.”
“Sedangkan makna Dongdang itu sendiri? Ini pemersatu kita dari masyarakat bawah, menengah, sampai atas semua bersatu hati, menyatu dalam satu wadah Dongdang, lalu kita persembahkan bersama‑sama kepada jamaah dan tamu yang hadir. Intinya: kita ingin mengagungkan Nabi Muhammad SAW lewat cara sederhana namun tulus melalui kebersamaan dan saling berbagi.”
Salah satu warga Herlina, menjelaskan keragaman serta keunikan isinya:
“Isi Dongdang tiap rumah itu beda‑beda, tergantung yang menyiapkannya. Ada yang isinya masakan seperti ayam, mie, aneka hidangan. Ada pula yang melengkapinya dengan sembako, pakaian baru, sandal, bendera Merah Putih, dan lain‑lain.”
“Dan yang paling khas kalau ada uang yang dimasukkan ke dalam Dongdang, uang itu dibagi rata kepada semua orang yang hadir, tidak ada yang dikecualikan. Begitulah kebiasaan yang sudah turun‑temurun di sini,” tambahnya sambil tersenyum rendah hati, “Mohon maaf ya sekiranya belum sempurna, semoga niat baiknya tetap sampai ke hadirat‑Nya.”

Tak lengkap rasanya tanpa sosok yang sudah puluhan tahun setia melestarikan tradisi ini. H. Sarifudin, warga yang setiap tahun tak pernah absen membawa Dongdang ke Masjid Nurul Falah.
“Untuk tahun ini bapak masih bisa melaksanakannya, alhamdulillah. Semoga tahun depan pun masih diberi kekuatan supaya bisa lebih baik lagi dari sekarang. Harapannya sederhana saja: semoga ke depannya makin baik, makin banyak yang ikut, dan semoga saya pun masih sehat walafiat untuk terus melakukannya.”
Ditanya ke mana ia membawa Dongdang setiap kali, beliau menjawab tegas.
“Ke Masjid Nurul Falah, Kampung Situ Leutik, wilayah RT 03/06 Desa Dramaga. Sudah rutin tiap tahun saya lakukan baik saat Maulid, Lebaran, maupun hari‑hari besar lainnya.”
Isi Dongdang miliknya pun selalu lengkap: buah pir, apel, jeruk, manggis, dilengkapi olahan ayam, pete, sayuran, dan makanan lainnya—disiapkan penuh kasih sayang untuk dibagikan kepada tetangga dan sesama warga.
Kegiatan bertempat di DKM Masjid Nurul Falah, Situ Leutik, RT 03/06 Desa Dramaga ini membuktikan, Dongdang bukan sekadar wadah berisi makanan atau benda melainkan bukti bahwa ketika hati bersatu, warga dari berbagai lapisan bisa berdiri setara, saling berbagi, dan merayakan kelahiran Sang Nabi dengan cara yang paling beliau sukai: penuh kasih sayang, kebersamaan, dan kepedulian sesama makhluk Allah.
Semoga tradisi Dongdang ini terus tumbuh makin besar, makin luas diketahui orang, dan senantiasa menjaga kebersamaan warga Dramaga dan sekitarnya dari generasi ke generasi! (manabd)














