megaswaranews.com, NANGGUNG – Memasuki musim kemarau yang baru berjalan kurang dari satu bulan, ratusan warga di Desa Parakan Muncang, Kecamatan Nanggung, Kabupaten Bogor, Musim Kemarau Baru Sebulan, Desa Parakan Muncang Kembali Krisis Air Bersih terjebak dalam masalah krisis air bersih yang terjadi secara rutin setiap tahunnya. Tidak hanya kebutuhan rumah tangga, kekeringan parah ini juga mengancam puluhan hektar lahan persawahan milik warga terancam gagal panen. Minggu (21/6/2026)
Kepala Desa Parakan Muncang, Andi menjelaskan selama ini, warga desa umumnya mengandalkan dua sumber utama air bersih, yaitu aliran air dari kawasan pegunungan sekitar dan air tanah yang diambil melalui sumur keluarga maupun sumur umum. Saat musim hujan, pasokan air terasa cukup dan lancar. Namun begitu curah hujan berkurang drastis, aliran air dari pegunungan menyusut tajam dan permukaan air tanah makin sulit dijangkau. Akibatnya, sumur-sumur warga mulai mengering dan tidak bisa digunakan lagi.
“Sumber air alami makin menipis setiap tahunnya. Padahal kami sudah berupaya membangun dan merawat sarana penampungan air sejak jauh hari, namun jangkauannya belum merata dan tetap tidak bisa mengimbangi kebutuhan saat kemarau tiba,” ungkapnya.
Tidak hanya sumber utama yang kering, jalur alternatif berupa aliran sungai di sekitar desa pun kini mengalami penurunan debit yang sangat signifikan. Air yang tersisa tampak keruh dan kualitasnya tidak lagi layak digunakan secara langsung untuk keperluan sehari-hari seperti mandi, mencuci, apalagi dikonsumsi.
Melihat kondisi yang semakin memburuk, Pemerintah Desa Parakan Muncang segera meminta bantuan kepada Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bogor. Sebagai langkah awal, dikirimkan dua unit mobil tangki air bersih yang dibagikan ke dua titik utama, yaitu Kampung Parakan Muncang dan Kampung Blok Paris.
Namun, bantuan dua tangki per pekan tersebut dinilai masih jauh dari cukup untuk memenuhi kebutuhan ratusan kepala keluarga. Warga masih harus antre panjang untuk mendapatkan jatah air bersih, sementara kebutuhan untuk mencuci dan membersihkan lingkungan tetap terhambat karena sungai pun ikut mengering.
Di sisi lain, puluhan hektar sawah yang menjadi tumpuan ekonomi warga juga terancam gagal panen. Tanaman padi yang membutuhkan pasokan air terus-menerus mulai layu dan kering karena tidak ada lagi aliran irigasi yang masuk.
Hidayat Warga sekitar berharap jadwal pengiriman air bersih dari BPBD bisa ditambah frekuensinya. Masalah ini terjadi setiap tahun, jadi selain bantuan darurat, kami juga berharap ada solusi jangka panjang seperti pembangunan sistem penampungan air hujan dan pelestarian mata air agar tidak terus bergantung pada bantuan saat musim kemarau tiba.
Hingga saat ini, BPBD Kabupaten Bogor terus memantau perkembangan kondisi di lapangan dan berkomitmen menambah pasokan air jika kebutuhan semakin meningkat seiring berjalannya musim kemarau.(*)














