megaswaranews.com, Bogor – Siapa sangka sebuah ember yang biasanya digunakan untuk menampung air bisa menjadi sumber pangan keluarga. Di Kelurahan Mulyaharja, Kota Bogor, warga mulai membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukan penghalang untuk menghasilkan ikan dan sayuran sendiri.
Melalui metode Budidaya Ikan dalam Ember (Budikdamber), warga memanfaatkan ruang sederhana di sekitar rumah untuk memelihara ikan lele sekaligus menanam sayuran kangkung.
Hasilnya mulai terlihat. Pada Sabtu (31/10/2026), masyarakat Mulyaharja bersama tim IPB University menggelar panen raya Budikdamber sebagai tindak lanjut pelatihan yang sebelumnya diberikan kepada warga.
Program tersebut menjadi bagian dari ECO-CREATE Bogor, sebuah kegiatan pengelolaan lingkungan inklusif berbasis ekonomi sirkular untuk pengembangan komunitas di Kelurahan Mulyaharja.
Bagi masyarakat perkotaan yang memiliki keterbatasan halaman, metode ini menawarkan alternatif untuk memanfaatkan ruang yang selama ini belum produktif.
Sistemnya relatif sederhana. Ikan lele dipelihara di dalam ember, sementara kangkung ditanam menggunakan net pot yang ditempatkan pada bagian atas wadah.
Dengan cara tersebut, warga dapat mengembangkan dua jenis sumber pangan dalam satu tempat tanpa membutuhkan kolam maupun lahan pertanian yang luas.
Bukan Sekadar Pelatihan, Warga Mulai Memanen
Kegiatan Budikdamber ini merupakan bagian dari program PRIME STeP IPB University 2026. Sebelumnya, pada 27 Agustus 2026, tim dosen IPB telah memberikan pelatihan dan praktik langsung kepada masyarakat di Posyandu Kelurahan Mulyaharja.
Dalam pelatihan tersebut, warga diperkenalkan dengan penggunaan ember, benih lele, bibit kangkung, net pot, media tanam rockwool, serta pakan ikan.
Dr. Roza Yusfiandayani, yang memimpin kegiatan panen bersama masyarakat, menjelaskan bahwa Budikdamber dapat menjadi alternatif kegiatan produktif bagi warga yang memiliki keterbatasan lahan.
Menurutnya, melalui praktik dan pendampingan, masyarakat diharapkan semakin memahami cara pemeliharaan sehingga kegiatan tersebut dapat terus dikembangkan secara mandiri.
Sementara itu, Ketua Tim PRIME STeP IPB 2026, Dr. Doni Sahat Tua Manalu, mengatakan program ECO-CREATE tidak berhenti pada pemberian pelatihan. Pengetahuan yang diperoleh masyarakat diharapkan dapat diterapkan menjadi aktivitas produktif yang mendukung kebutuhan warga.
Sekretaris Kelurahan Mulyaharja, Taufik Hidayat, juga mengapresiasi pendampingan tersebut karena memberikan alternatif pemanfaatan ruang di lingkungan permukiman.
Harapan Baru dari Halaman Rumah
Lebih dari sekadar kegiatan budidaya, Budikdamber membuka peluang bagi keluarga untuk memanfaatkan lingkungan rumah sebagai sumber pangan tambahan.
Namun, keberhasilannya tetap membutuhkan perawatan rutin. Pemberian pakan, kualitas air, kepadatan ikan, serta pertumbuhan tanaman harus diperhatikan agar hasil budidaya dapat optimal.
Tantangan berikutnya adalah memastikan kegiatan tersebut tidak berhenti setelah pelatihan dan panen perdana.
Pendampingan berkelanjutan, kemampuan warga mengelola budidaya secara mandiri, serta perhitungan biaya dan hasil produksi menjadi faktor penting untuk menentukan manfaat jangka panjang.
Jika dikembangkan secara konsisten, metode sederhana ini berpotensi membantu keluarga memenuhi sebagian kebutuhan pangan dari lingkungan rumah sendiri.
Dari sebuah ember di halaman rumah, warga Mulyaharja menunjukkan bahwa upaya membangun ketahanan pangan dapat dimulai dari langkah kecil, dengan memanfaatkan apa yang tersedia di sekitar mereka.















