megaswaranews.com, CIBINONG KABUPATEN BOGOR – Museum Keris Masjid Al-Atiqiyah Karadenan, Kecamatan Cibinong, Kabupaten Bogor, menambah koleksi pusaka dari hibah warga. Sejumlah pusaka yang oleh pengelola dan budayawan dikaitkan dengan masa Sunda Galuh dan Pajajaran kini tersimpan dan diperkenalkan kepada masyarakat.
Salah satu koleksi yang menarik perhatian yaitu kudi. Dalam tradisi dan kajian budaya Sunda, masyarakat kerap mengaitkan kudi dengan perkembangan bentuk awal kujang.
Pengelola menjelaskan, masyarakat Sunda pada masa lalu menggunakan kudi sebagai perkakas untuk membantu aktivitas pertanian dan berladang.
Seiring perkembangan tradisi, masyarakat tidak hanya menggunakan kudi sebagai alat kerja. Mereka juga memberikan nilai simbolis dan spiritual pada benda tersebut hingga kemudian memasukkannya ke dalam tradisi pusaka.
Pengurus Museum Keris, R. Dadang Supadma, mengatakan salah satu kudi yang tersimpan di museum mereka berkaitan dengan masa Sunda Galuh, sebelum periode Pajajaran.
“Di sini ada beberapa buah pusaka, yaitu kudi. Ini masanya era Sunda Galuh, jadi sebelum era Pajajaran. Konon dulunya ini alat pertanian ketika para penduduk melakukan aktivitas berkebun,” kata Dadang.
Pengelola juga menjelaskan istilah Kudi Hyang dalam tradisi lisan Sunda. Istilah tersebut kerap dikaitkan dengan cerita mengenai asal-usul penamaan kujang.
Kujang kemudian berkembang sebagai salah satu pusaka sekaligus simbol dalam kebudayaan Sunda. Museum ini juga menerima hibah berupa Kujang Kuntul sebagai bagian dari koleksi.
Seniman dan budayawan Nurdin mengatakan koleksi kujang di museum tersebut juga berkaitan dengan cerita mengenai masa Pajajaran. Menurut dia, masyarakat pada masa tersebut menggunakan berbagai benda pusaka dengan fungsi dan bentuk yang beragam.
“Di sini juga ada peninggalan era Pajajaran, yaitu kujang. Dulu era Pajajaran, keris ini fungsinya untuk tombak,” ujar Nurdin.
Berbagai koleksi tersebut kini menjadi bagian dari upaya museum mengenalkan benda pusaka dan budaya Sunda kepada masyarakat.
Pengelola berharap keberadaan museum dapat menjadi sarana edukasi bagi generasi muda. Mereka juga ingin masyarakat mengenal dan merawat warisan budaya serta memahami sejarah yang berkembang di tengah masyarakat Sunda.
(edi)















