megaswaranews.com — Presiden Prabowo Subianto menegaskan pemerintah telah menutup 290 Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang dinilai tidak produktif, merugi, atau berkinerja buruk, dan berhasil menghemat biaya operasional negara sebesar Rp50 triliun. Langkah ini merupakan bagian dari restrukturisasi besar-besaran BUMN yang digelar melalui Badan Pengelola Investasi Danantara.
LATAR BELAKANG DAN DATA AWAL
Awalnya teridentifikasi 1.074 entitas BUMN beserta anak dan cucu perusahaan di seluruh Indonesia, Presiden menargetkan pada 31 Desember 2026, jumlah BUMN hanya tersisa maksimal 300 entitas, artinya sekitar 750 BUMN lagi akan ditutup, dilebur, atau dikonsolidasikan.
Selain itu, penghematan Rp50 triliun berasal dari pemangkasan biaya overhead, yakni gaji direksi & komisaris, sewa gedung, sewa kendaraan, hingga biaya perjalanan dinas. Target penghematan diperkirakan bisa menyentuh Rp70 triliun hingga akhir tahun 2026.
PERNYATAAN PRESIDEN
“Dalam kurang dari dua tahun pemerintahan, kita telah menutup 290 BUMN yang tidak menguntungkan, tidak berkinerja baik, dan merugi. Kita berhasil menghemat Rp50 triliun — uang itu kini dialihkan untuk investasi, industrialisasi, pembangunan sekolah, puskesmas, dan perumahan rakyat, “ujar Presiden Prabowo Subianto, pidato penutupan Muktamar ke-35 NU, Jombang, Senin, (31/8) kemarin.
TUJUAN DAN ALOKASI DANA
Disebutkan bahwa hanya BUMN yang produktif dan bernilai tambah bagi rakyat yang dipertahankan, dana yang dihemat akan digunakan untuk, pembangunan dan renovasi fasilitas kesehatan, peningkatan sarana pendidikan dan perumahan bagi masyarakat berpenghasilan rendah, serta pendukung program industrialisasi nasional.
TANGGAPAN
Adapun dukungan datang dari berbagai pihak, termasuk pengamat yang menilai langkah ini bagian dari transformasi tata kelola perusahaan negara yang lebih sehat dan profesional. Namun, pemerintah juga diminta memastikan tidak ada dampak negatif terhadap pelayanan publik dan penyerapan tenaga kerja. (Lison A.P)
Sumber : Sekretariat Kabinet














