megaswaranews.com, BOGOR – Guna menyelaraskan implementasi kurikulum dan meningkatkan kualitas pembelajaran di satuan pendidikan, Cabang Dinas Pendidikan (Cadisdik) Wilayah 1 Kabupaten Bogor menggelar kegiatan pembinaan khusus. Kegiatan ini menargetkan seluruh Wakil Kepala Sekolah (Wakasek) bidang Kurikulum yang bertugas di Sekolah Menengahæ Kejuruan (SMK) Swasta se-wilayah binaan.
Bertempat Di Hotel swiss Belcourt Kota Bogor, dihadiri oleh 280 Wakasek Bidang Kurikulum yang mewakili ratusan SMK Swasta yang tersebar di wilayah Kabupaten Bogor. Kegiatan ini menjadi wadah strategis untuk menyamakan persepsi mengenai kebijakan pendidikan terbaru, khususnya dalam penerapan Kurikulum Merdeka dan penyelarasan materi ajar dengan kebutuhan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Rabu (13/5/2026)
Ketua MKKS SMK Swasta KCD wilayah 1, H. Budy Antoro, menjelaskan peran vital Wakasek Bidang Kurikulum sebagai ujung tombak peningkatan mutu di sekolah. Posisi ini dinilai bukan sekadar mengurus administrasi, melainkan sebagai motor penggerak utama yang memastikan proses belajar mengajar berjalan efektif dan sesuai standar nasional pendidikan.
” Menyambut tahun ajaran baru, ratusan perwakilan sekolah se-Kabupaten Bogor berkumpul dalam kegiatan persiapan penyusunan dan penyempurnaan kurikulum. Sebanyak 280 sekolah, turut hadir dalam kegiatan ini dengan satu tujuan utama: menyusun kurikulum yang tidak hanya sekadar dokumen administrasi, melainkan kurikulum yang benar-benar dibutuhkan, relevan, dan dapat diterapkan secara nyata di lapangan.”
Ketua MKKS SMK swasta, Pengurus MKKS, Kepala Cadisdik wilayah 1 dan Pengawas SMK serta seluruh peserta wakasek kurikulum (foto : manabd)
Dalam pembahasan disampaikan bahwa untuk tahun ajaran mendatang, kurikulum yang diterapkan secara resmi tetap menggunakan Kurikulum Merdeka, bukan kembali ke kurikulum sebelumnya. Hal ini menjadi acuan utama bagi seluruh satuan pendidikan untuk menyusun rencana pembelajaran yang terarah dan terukur.
Fokus utama penerapan kurikulum ini juga diarahkan agar ada sinkronisasi yang kuat antara materi pembelajaran dengan kebutuhan Dunia Usaha dan Dunia Industri (DUDI). Hal ini dilakukan demi satu tujuan besar: memastikan lulusan sekolah, terutama lulusan SMK, memiliki keahlian yang sesuai dan siap kerja, sehingga tidak ada lagi lulusan yang menganggur setelah menyelesaikan pendidikannya. Tegas Budy Antoro
Dengan penyelarasan kurikulum dan kebutuhan dunia kerja, diharapkan lulusan Kabupaten Bogor memiliki kompetensi yang mumpuni, mampu bersaing, dan langsung terserap di lingkungan kerja maupun wirausaha.
“Kami ingin memastikan seluruh Wakasek Bidang Kurikulum memiliki pemahaman yang utuh dan tepat dalam menjalankan tugas pokok dan fungsinya. Mereka harus mampu mengarahkan guru dalam menyusun dokumen kurikulum yang benar, melaksanakan supervisi akademik, serta memastikan kompetensi siswa selaras dengan Standar Kompetensi Kerja Nasional Indonesia (SKKNI),” ungkap Budy Antoro
Peserta Pembinaan Wakasek Bidang Kurikulum Seeius mendengarkan dari Narasumber (foto : manabd)
Materi yang dibawakan dalam pembinaan ini sangat mendasar namun krusial bagi operasional sekolah. Peserta dibekali panduan teknis mulai dari penyusunan program kerja tahunan, pemetaan kompetensi keahlian, hingga strategi pembinaan bagi guru pembimbing agar mampu menciptakan keseimbangan antara pembelajaran teori dan praktik.
Sementara itu, Cucu Salman Kepala Cadisdik Wilayah 1 menegaskan komitmennya untuk terus melakukan pembinaan secara berkelanjutan. Sinergi yang kuat antara pengawas pendidikan, MKKS, kepala sekolah, dan Wakasek Kurikulum menjadi kunci utama agar SMK Swasta di Kabupaten Bogor terus tumbuh menjadi lembaga pendidikan vokasi yang andal, berdaya saing tinggi, dan menjadi yang terdepan di Jawa Barat.
“Tujuan utama penyelenggaraan kegiatan ini adalah untuk menyamakan persepsi di kalangan peserta mengenai pengelolaan pembelajaran dan kurikulum di sekolah. Materi yang disampaikan mencakup penyusunan dokumen sekolah, mulai dari dokumen Raport Pendidikan hingga penyusunan KOSP (Program Operasional Satuan Pendidikan).”
Kegiatan juga menyampaikan bahwa telah disusun Rencana Tindak Lanjut (RTL). Hal ini dilakukan agar peserta tidak hanya sekadar menerima informasi, tetapi juga melaksanakan tugas dan menghasilkan produk kerja yang konkret sebagai hasil dari kegiatan pembinaan ini. Diharapkan, hasil pembelajaran yang diperoleh siswa menjadi lebih berkualitas, aplikatif, dan sesuai dengan kebutuhan pengembangan diri serta dunia kerja.Pungkas Cucu Salman***














