megaswaranews.com, Kulon Progo – Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPW BI) DIY, Sri Darmadi Sudibyo mengajak para siswa untuk menjadi konsumen cerdas.
“Kami mengajak para siswa menjadi konsumen yang cerdas. Belanjalah sesuai kebutuhan. Bukan keinginan. Dengan pola konsumsi yang bijak serta pemahaman Cinta, Bangga, dan Paham (CBP) rupiah, kita sekalian telah berkontribusi langsung menjaga stabilitas ekonomi nasional,” ujar Sri Darmadi Sudibyo, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPW BI) DIY, dalam kegiatan edukasi ekonomi strategis bertajuk Masyarakat lan Pedagang Tanggap Inflasi (Mrantasi) Goes to School di Hotel Novotel Kulon Progo, Rabu (6/5/2026).
Sri Darmadi menyebut, sinergi kuat antara Bank Indonesia, Kemenag, dan Pemda DIY ini diharapkan mampu melahirkan Duta Inflasi dari kalangan pelajar.
“Harapannya mereka dapat melakukan edukasi getok tular kepada keluarga dan masyarakat luas, demi mewujudkan ekonomi DIY yang stabil dan sejahtera,” imbuh Sri Darmadi.
Kepala Tim Perumus Ekonomi Kantor Perwakilan Bank Indonesia DIY, Arya Jodi Listyo mengatakan Mrantasi Goes To School merupakan bagian dari strategi komunikasi efektif yang digelar Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) DIY bersama Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) DIY
untuk menekan laju inflasi.
Kegiatan Mrantasi Goes To School diikuti ratusan siswa dan guru SLTA serta Madrasah Aliyah (MA) se-Kabupaten Kulon Progo.
Acara berlangsung interaktif dengan sesi diskusi mengenai sistem pembayaran digital dan simulasi pengendalian harga. Antusiasme terlihat saat para siswa diberikan tantangan untuk menyusun rencana belanja bijak yang mendukung produk lokal Kulon Progo.
“Generasi muda memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas nilai rupiah. Literasi keuangan harus kita tanamkan sejak dini,” kata Arya.
Kepala Seksi Pendidikan Madrasah Kantor Kementrian Agama Kulon Progo, Muhamad Dwi Putranto menyambut baik Mrantasi Goes To School. Menurutnya pemahaman ekonomi sangat erat kaitannya dengan kemandirian siswa. Kemenag pun mendorong konsep Madrasah preneur.
“Melalui literasi inflasi ini, siswa tidak hanya belajar teori. Tetapi dibekali mentalitas untuk mandiri secara ekonomi dan tanggap terhadap isu pangan lokal,” ungkapnya. (Wuri)















