megaswaranews.com, SUKABUMI – Di tengah sorotan publik terhadap kasus dugaan pemerasan yang menjerat AS (46), pria yang viral setelah mengaku sebagai wartawan dan mengamuk di SDN Sukaraja 2 Kabupaten Sukabumi, warga justru mengenang sosok anaknya yang merupakan penyandang tuna rungu dan tuna wicara.
Mantan Ketua RT 03 Cijangkar, Kota Sukabumi, Suhanda atau yang akrab disapa Bang Jo, mengatakan anak AS dikenal warga dengan nama Bagas. Namun di lingkungan tempat tinggalnya saat itu, warga lebih sering memanggilnya dengan sebutan “Wakwaw”.
Menurut Bang Jo, Bagas dikenal sebagai anak yang penurut dan mudah diajak berinteraksi meski memiliki keterbatasan dalam berkomunikasi.
“Nama aslinya Bagas. Di Cijangkar mah lebih dikenal sebagai si Wakwaw. Kalau disuruh apa saja mau, anaknya cepat tanggap dan tidak pernah macam-macam,” ujar Bang Jo kepada Megaswara News, Selasa (01/09/2026).
AS bersama keluarganya diketahui pernah tinggal di wilayah Cijangkar sekitar tahun 2017. Namun, kata Bang Jo, keluarga tersebut tidak terlalu banyak berinteraksi dengan warga sekitar.
“Saya lebih kenal anak dan istrinya. Kalau AS sendiri kurang bersosialisasi dengan warga. Kadang pulangnya malam, bahkan menjelang pagi baru ada di rumah,” katanya.
Di balik keterbatasan ekonomi yang dihadapi keluarga tersebut, warga masih mengingat kondisi Bagas dan adiknya. Menurut Bang Jo, banyak warga yang merasa iba karena keduanya jarang terlihat menikmati jajanan seperti anak-anak lainnya.
“Kasihan waktu itu. Kalau ada orang lagi makan atau punya jajanan, si Bagas suka memperhatikan saja. Warga kadang suka kasih makanan atau jajanan karena merasa iba,” ungkapnya.
Bagas diketahui memiliki seorang adik yang tidak memiliki kebutuhan khusus. Meski begitu, perhatian warga lebih banyak tertuju kepada Bagas karena kondisi yang dialaminya.
Bang Jo menuturkan, istri AS kemudian bekerja sebagai buruh migran di Singapura. Setelah keluarga tersebut berpindah, Bagas dan adiknya sempat dititipkan kepada kerabat keluarga.
Peristiwa itu meninggalkan kesan tersendiri bagi warga yang pernah mengenal mereka. Bagi sebagian warga Cijangkar, sosok Bagas lebih membekas dalam ingatan dibanding berbagai persoalan yang kini menyeret nama ayahnya.
“Warga di sini banyak yang kasihan sama anaknya. Karena dari kecil memang sudah punya keterbatasan, tapi anaknya baik dan mudah diarahkan,” kata Bang Jo.
Kasus hukum yang kini menjerat AS masih dalam proses penanganan aparat penegak hukum. Sesuai asas praduga tak bersalah, AS tetap dianggap tidak bersalah sampai adanya putusan pengadilan yang berkekuatan hukum tetap.
Di tengah ramainya perbincangan publik mengenai kasus tersebut, warga tetap mengingat Wakwaw yang memiliki kebutuhan khusus dan tidak terkait dengan perkara yang sedang berjalan. (Edwin/Isman)














