megaswaranews.com, Bogor – Wakil Menteri Koordinator Bidang Pangan, Hanif Faisol Nurofiq, menegaskan bahwa penguatan produksi susu nasional harus menjadi perhatian serius pemerintah guna mendukung ketahanan pangan nasional. Saat meninjau kawasan Erif Farm di Cisarua, Bogor, Minggu (7/6)
Hanif menilai masih terdapat kesenjangan besar antara produksi susu dalam negeri dan kebutuhan konsumsi nasional.
Menurut Hanif, saat ini produksi susu nasional belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Indonesia sehingga ketergantungan terhadap impor masih sangat tinggi.
“Produksi susu nasional kita masih jauh dari kebutuhan nasional. Kesenjangan yang cukup besar ini harus segera dirumuskan solusinya oleh seluruh kementerian dan lembaga terkait,” ujar Hanif.

Ia menjelaskan bahwa sejumlah persoalan mendasar masih menjadi hambatan dalam pengembangan industri susu nasional, mulai dari keterbatasan lahan peternakan, ketersediaan hijauan pakan ternak, pasokan konsentrat pakan, hingga disparitas harga yang terjadi di sepanjang rantai pasok susu.
“Masih ada persoalan terkait ketersediaan lahan, pakan ternak, konsentrat pakan, hingga disparitas harga antara peternak dengan koperasi dan antara koperasi dengan industri pengolahan susu. Ini harus menjadi perhatian bersama,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Hanif menyoroti keberadaan peternakan Erif Farm yang berada di kawasan Cisarua Bogor yang telah beroperasi sejak era 1980-an. Menurutnya, perjalanan usaha peternakan tersebut dapat menjadi bahan evaluasi untuk mengidentifikasi berbagai tantangan yang selama ini dihadapi sektor persusuan nasional.
“Erif Farm ini merupakan pembelajaran penting. Kita perlu mengautopsi berbagai persoalan yang terjadi, mengapa sempat berkembang, kemudian mengalami pasang surut. Dari situ kita bisa merumuskan kebijakan yang lebih tepat,” ungkapnya.
Hanif menegaskan bahwa Kementerian Koordinator Bidang Pangan akan mengoordinasikan berbagai kementerian dan lembaga guna menyusun langkah-langkah strategis yang lebih terintegrasi. Upaya tersebut merupakan bagian dari pelaksanaan mandat pemerintah dalam memperkuat sektor pangan nasional.
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa tingkat konsumsi susu masyarakat Indonesia masih berada di bawah standar yang direkomendasikan oleh Food and Agriculture Organization. Berdasarkan standar tersebut, kebutuhan konsumsi susu ideal mencapai sekitar 30 kilogram per kapita per tahun.
“Saat ini konsumsi susu masyarakat Indonesia baru berada pada kisaran 16,2 hingga 16,8 kilogram per kapita per tahun. Artinya masih jauh dari standar yang direkomendasikan. Yang lebih memprihatinkan, hampir 80 persen kebutuhan susu nasional masih dipenuhi melalui impor,” jelasnya.
Menurut Hanif, apabila Indonesia ingin mencapai standar konsumsi susu yang ideal, maka peningkatan produksi dalam negeri harus dilakukan secara signifikan dan berkelanjutan.
Di sisi lain, Hanif menyampaikan apresiasinya terhadap capaian nasional dalam menjaga ketahanan pangan, khususnya komoditas beras dan jagung. Ia menilai peningkatan produksi jagung akan memberikan dampak positif terhadap sektor peternakan karena menjadi salah satu bahan utama pakan ternak.
“Kita bersyukur berdasarkan data statistik, ketahanan pangan untuk beras dan jagung menunjukkan perkembangan yang baik. Produksi jagung tentu akan berkorelasi langsung dengan ketersediaan pakan ternak sehingga mendukung pengembangan industri susu nasional,” tuturnya.
Hanif berharap seluruh pemangku kepentingan dapat bergerak bersama untuk memperkuat sektor persusuan nasional sehingga ketergantungan terhadap impor dapat dikurangi dan kebutuhan gizi masyarakat dapat terpenuhi secara lebih optimal.
Editor: Hendiadam















