megaswaranews.com, SUKABUMI — Keterbatasan fisik tidak menghalangi Andreas Aye, 18 tahun, dan kakaknya, Salas, untuk terus berkarya. Dua bersaudara penyandang disabilitas asal Kampung Cipuntang, Desa Talaga, Kecamatan Caringin, Kabupaten Sukabumi, tersebut menyalurkan bakat mereka melalui seni.
Andreas mengembangkan kemampuan melukis menggunakan pensil warna. Sementara Salas mengekspresikan kreativitasnya melalui syair dan puisi.
Keduanya tumbuh dalam keluarga sederhana dengan dukungan orang tua, saudara, dan lingkungan sekitar. Sejumlah karya Andreas bahkan menghiasi rumah mereka, mulai dari gambar karakter film, hewan, hingga tokoh yang dikaguminya.
Andreas Tekuni Seni Lukis Sejak SD
Andreas mengatakan dirinya mulai menyukai kegiatan menggambar dan melukis sejak duduk di sekolah dasar. Ia terus mengembangkan kemampuan tersebut meski memiliki keterbatasan fisik.
Saat ini, Andreas masih menempuh pendidikan di pesantren. Ia ingin menyelesaikan pendidikan sekaligus terus mengasah kemampuan melukisnya.
Salah satu tokoh yang dikagumi Andreas ialah Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi. Kekaguman itu ia tuangkan melalui sebuah lukisan yang dibuat khusus untuk Dedi Mulyadi.
Andreas mengerjakan lukisan tersebut selama sekitar tiga hari. Ia menyimpan hasil karyanya dengan harapan dapat bertemu langsung dan menyerahkannya kepada sosok yang ia kagumi.
“Sudah sejak lama saya mengagumi Pak Gubernur Kang Dedi Mulyadi. Lukisan beliau saya buat sekitar tiga hari,” ujar Andreas.
Selain melukis Dedi Mulyadi, Andreas menghasilkan berbagai karya lain berupa gambar hewan dan karakter yang ia sukai.
Salas Salurkan Kreativitas Lewat Puisi
Bakat seni juga dimiliki Salas. Kakak Andreas tersebut menyalurkan kreativitasnya melalui tulisan dan syair.
Salah satu karya yang dibuat Salas berjudul “Pantang Menyerah”. Ia menyiapkan puisi tersebut untuk diberikan kepada Dedi Mulyadi bersamaan dengan lukisan karya Andreas.
Bagi Andreas dan Salas, seni menjadi ruang untuk mengekspresikan diri sekaligus menunjukkan kemampuan mereka. Keduanya terus berkarya dengan dukungan keluarga.
Orang Tua Dukung Bakat Kedua Anak
Ibu Andreas dan Salas, Enen, menceritakan perjalanan putranya dalam menghadapi keterbatasan sejak kecil.
Menurut Enen, Andreas tidak mengalami gangguan kesehatan sejak lahir. Namun, ketika masih kecil, Andreas sempat mengalami sakit panas dan kemudian menjalani pemeriksaan medis.
Saat itu, Andreas sempat mendapat saran untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut di rumah sakit. Namun, keterbatasan biaya dan kondisi keluarga membuat Enen membawa putranya kembali ke rumah.
Meski menghadapi keterbatasan ekonomi, Enen mengaku bersyukur keluarganya tetap dapat berkumpul dan saling memberikan dukungan.
Enen juga berharap kedua anaknya mendapat kesempatan bertemu dengan Dedi Mulyadi. Ia ingin Andreas menyerahkan lukisannya dan Salas memberikan puisi yang telah mereka siapkan.
Bagi keluarga tersebut, kesempatan bertemu dengan sosok yang dikagumi bukan hanya soal pertemuan. Momen itu juga menjadi bentuk apresiasi terhadap karya Andreas dan Salas yang terus menyalurkan bakat serta semangat berkarya.
(M. Heryaman)














