megaswaranews.com, SUKABUMI — Kerusakan saluran irigasi Citepus mengganggu pasokan air ke area persawahan di Desa Citepus, Kecamatan Palabuhanratu, Kabupaten Sukabumi. Kondisi tersebut membuat petani khawatir masa tanam terganggu, terutama saat memasuki musim kemarau.
Sekitar 50 hektare lahan pertanian warga terancam gagal tanam akibat berkurangnya pasokan air. Sejumlah titik saluran irigasi mengalami kerusakan dan kebocoran sehingga debit air yang mengalir ke lahan pertanian di bagian hilir tidak maksimal.
Warga juga memanfaatkan air dari saluran irigasi tersebut untuk kebutuhan sehari-hari, seperti mandi dan mencuci pakaian. Karena itu, kerusakan saluran tidak hanya berdampak pada sektor pertanian, tetapi juga kebutuhan masyarakat.
Petani Minta Irigasi Segera Diperbaiki
Ketua Kelompok Tani (Poktan) Mukti Tani, Dadang, meminta pemerintah memperbaiki titik-titik saluran yang mengalami kerusakan dan rawan kebocoran.
Menurut Dadang, petani membutuhkan perbaikan menyeluruh dari bagian hulu hingga hilir agar distribusi air kembali berjalan optimal.
“Harapan dari petani khususnya saya, kami ada perbaikan irigasi. Ada keterlibatan dari instansi terkait, supaya ada pembenahan dari bawah atau dasar saluran agar tidak terjadi kebocoran,” ujar Dadang.
Dadang mengatakan panjang saluran irigasi yang mencapai beberapa kilometer membuat petani kesulitan melakukan perbaikan secara swadaya. Selama ini, petani hanya menambal sejumlah bagian yang rusak menggunakan kemampuan dan biaya sendiri.
“Kalau swadaya tidak maksimal. Kalau ada penambalan-penambalan juga pastinya mengambil dari irigasi,” katanya.
UPTD PU Tinjau Kerusakan Saluran
Menindaklanjuti keluhan petani, petugas UPTD Dinas Pekerjaan Umum Kabupaten Sukabumi meninjau langsung saluran Daerah Irigasi (DI) Citepus. Petugas melakukan peninjauan sebagai bahan laporan dan pengajuan perbaikan kepada dinas terkait.
Petugas UPTD Dinas PU Kabupaten Sukabumi, Saepul Rohman, mengatakan wilayah kewenangan UPTD pada saluran DI Citepus mencapai sekitar 3,7 kilometer.
Dari keseluruhan saluran tersebut, terdapat sejumlah bagian yang mengalami kerusakan dan kebocoran. Kondisi itu membuat distribusi air menuju lahan pertanian di bagian hilir tidak maksimal.
Saepul menilai kebutuhan air bagi petani semakin penting saat memasuki musim kemarau. Karena itu, pihaknya akan mengusulkan penanganan dan rehabilitasi terhadap bagian saluran yang mengalami keretakan maupun kerusakan.
“Langkah yang akan diambil, pertama melihat kerusakannya. Kedua, mengusulkan kepada dinas untuk rehabilitasi, terutama di bagian yang mengalami kebocoran, retak, dan rusak,” ujar Saepul.
Menurut Saepul, kebocoran di sejumlah titik menjadi salah satu faktor yang mengurangi debit air yang sampai ke area persawahan.
Petani kini berharap pemerintah segera merealisasikan perbaikan saluran irigasi Citepus. Mereka membutuhkan distribusi air yang kembali normal agar sekitar 50 hektare lahan pertanian di Desa Citepus tetap dapat ditanami dan berproduksi.
(Indra Sopyan)















