megaswaranews.com, SUKABUMI – Aktivitas gempa bumi beruntun mengguncang wilayah Pangalengan dan sejumlah daerah di Bandung Selatan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat 118 aktivitas gempa di kawasan tersebut sejak 11 Agustus hingga 17 September 2026.
Salah satu gempa kembali terjadi pada Kamis (17/9/2026) pukul 04.59 WIB. Gempa tersebut memiliki magnitudo 2,6 dengan pusat gempa berada di darat pada koordinat 7,22 Lintang Selatan dan 107,60 Bujur Timur.
BMKG mencatat pusat gempa tersebut berada sekitar 23 kilometer sebelah selatan Kabupaten Bandung dengan kedalaman hanya 3 kilometer. Kedalaman yang dangkal membuat sebagian warga di sekitar wilayah Pangalengan merasakan getaran.
Anggota Ikatan Ahli Kebencanaan Indonesia (IABI), Dr. Daryono, menjelaskan bahwa rangkaian aktivitas tersebut masuk kategori earthquake swarm atau gempa swarm.
“Pola rentetan gempa tersebut dapat dikategorikan sebagai earthquake swarm, yaitu rangkaian gempa yang terjadi berulang dalam suatu kawasan dan periode tertentu, tanpa satu gempa utama (mainshock) yang secara jelas mendominasi,” kata Daryono, Kamis (17/9).
Menurut Daryono, gempa swarm tidak memiliki satu gempa utama yang mendominasi rangkaian aktivitas. Puluhan gempa dengan magnitudo relatif kecil dapat muncul berulang di kawasan yang sama.
Daryono juga mengingatkan masyarakat agar tidak langsung menganggap gempa swarm sebagai tanda akan terjadi gempa besar. Menurutnya, ilmuwan perlu melihat distribusi episenter, kedalaman, mekanisme sumber, hingga pola perpindahan aktivitas gempa untuk memahami karakter swarm.
“Keberadaan swarm tidak dengan sendirinya menunjukkan bahwa energi tektonik sedang dilepaskan habis-habisan atau bahwa gempa besar pasti akan terjadi,” ujarnya.
Pangalengan Berada di Wilayah Tektonik Kompleks
Daryono menjelaskan posisi Pangalengan berada dalam wilayah dengan kondisi tektonik yang kompleks. Kawasan tersebut berdekatan dengan sistem Sesar Garsela atau Garut Selatan yang termasuk salah satu struktur sesar aktif di Jawa Barat.
Selain aktivitas sesar, kondisi tektonik Jawa Barat juga berkaitan dengan pergerakan Lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah Lempeng Eurasia atau Lempeng Sunda di selatan Jawa.
“Konvergensi kedua lempeng tersebut menghasilkan akumulasi dan redistribusi tegangan di dalam kerak bumi. Sebagian tegangan itu kemudian dilepaskan melalui pergerakan pada bidang-bidang sesar aktif,” jelas Daryono.
Kondisi tersebut membuat masyarakat perlu melihat aktivitas gempa Pangalengan sebagai bagian dari sistem tektonik regional. Kedalaman pusat gempa juga memengaruhi seberapa kuat warga merasakan getaran.
Gempa dengan magnitudo kecil dapat terasa cukup kuat ketika pusat gempanya berada dekat permukaan. Kondisi geologi setempat juga dapat memperkuat gelombang gempa sehingga intensitas getaran berbeda antara satu lokasi dan lokasi lainnya.
Masyarakat Diminta Tetap Siaga
Daryono mengatakan gempa swarm dapat muncul akibat berbagai proses, termasuk pergeseran sesar serta aktivitas vulkanik atau hidrotermal. Sebagian rangkaian gempa swarm kemudian mereda tanpa berkembang menjadi gempa besar.
Karena itu, ia meminta masyarakat tidak panik, tetapi tetap meningkatkan kesiapsiagaan.
“Rangkaian gempa swarm tidak seharusnya direspons dengan kepanikan, tetapi juga tidak boleh diabaikan,” kata Daryono.
Masyarakat dapat meningkatkan kesiapsiagaan dengan memeriksa kondisi bangunan rumah, terutama jika terdapat retakan atau bagian struktur yang mengalami kerusakan. Warga juga perlu mengamankan benda-benda yang mudah jatuh saat terjadi guncangan.
Informasi mengenai perkembangan aktivitas gempa sebaiknya masyarakat peroleh dari kanal resmi BMKG. Dengan kesiapsiagaan dan informasi yang tepat, masyarakat dapat mengurangi risiko saat gempa kembali terjadi.
(MGSTV)















