megaswaranews.com, Sukaraja – Menguatnya nilai tukar dolar Amerika Serikat yang menembus Rp18 ribu berdampak langsung pada usaha tempe di Kampung Ciluar, Desa Pasirlaja, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor. Kenaikan kurs dolar mendorong harga kedelai impor naik dan membuat biaya produksi semakin tinggi.
Para pengrajin tempe mengaku kesulitan menghadapi lonjakan harga bahan baku. Meski demikian, mereka tetap mempertahankan produksi untuk memenuhi kebutuhan pasar dan menjaga usaha tetap berjalan, meski keuntungan terus menurun.
Japar, salah seorang pengusaha tempe di Kampung Ciluar, mengatakan harga kedelai impor sebelumnya berada di kisaran Rp10 ribu per kilogram. Kini harga kedelai naik menjadi Rp11.500 per kilogram.
Untuk mengurangi beban biaya produksi, para pengrajin terpaksa memangkas jumlah produksi harian. Jika sebelumnya mereka mampu mengolah enam hingga tujuh kuintal kedelai per hari, kini produksi turun menjadi sekitar lima kuintal per hari.
Selain mengurangi jumlah produksi, pengrajin juga mengecilkan ukuran tempe yang dijual kepada konsumen. Langkah tersebut dilakukan agar harga jual tetap terjangkau dan tidak membebani pelanggan.
Saat ini harga tempe masih dipertahankan, mulai dari Rp3 ribu hingga Rp10 ribu per potong, tergantung ukuran.
Para pengrajin berharap pemerintah dapat menjaga stabilitas harga kedelai impor dan nilai tukar rupiah agar usaha tempe tetap bertahan di tengah tekanan kenaikan biaya produksi.
(suhanda)















