megaswaranews.com, Bogor – Usianya sudah 88 tahun. Namun, seorang kakek yang tinggal di kawasan Gadog, Kabupaten Bogor, masih terlihat berjualan sayuran di Jalan Merdeka, Kecamatan Bogor Tengah, Kota Bogor.
Pemandangan itu menarik perhatian Wakil Wali Kota Bogor, Jenal Mutaqin, saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) penataan kawasan Jalan Merdeka, Kamis (1/10/2026).
Di tengah kegiatan tersebut, Jenal menghentikan langkahnya ketika melihat pedagang lanjut usia itu membawa dagangan sayuran dengan cara dipikul menggunakan karung.
Mengetahui usia sang pedagang telah mencapai 88 tahun, Jenal memutuskan memborong seluruh sayuran yang dibawanya.
Keputusan itu diambil secara spontan. Bagi Jenal, melihat seseorang yang sudah lanjut usia masih harus berjualan di jalanan menimbulkan rasa iba.
“Sudah usia 88 tahun, saya merasa seperti melihat kake sendiri, walaupun kakek saya sudah meninggal. Kita suruh pulang,” ujar Jenal.
Jenal mengaku tindakannya lebih didorong perasaan pribadi setelah melihat kondisi pedagang tersebut.
“Saya lebih melihat ke psikologis orang tua saja. Kasihan dan kita borong jualannya untuk dimasak,” katanya.
Seluruh sayuran yang dibeli kemudian dibawa oleh anggota Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) yang turut mendampingi kegiatan tersebut untuk dimasak dan dimanfaatkan.
Jenal juga meminta kakek tersebut pulang dan tidak lagi berjualan di kawasan Jalan Merdeka.
Di Balik Peristiwa, Ada Persoalan Lansia
Peristiwa ini menyisakan pertanyaan lebih luas tentang kehidupan warga lanjut usia yang masih menjalani aktivitas mencari penghasilan.
Usia yang semakin bertambah tidak selalu membuat seseorang dapat sepenuhnya berhenti bekerja. Namun, kondisi setiap lansia tentu berbeda, termasuk kebutuhan ekonomi, dukungan keluarga, dan kemampuan menjalani aktivitas sehari-hari.
Kisah pedagang berusia 88 tahun dari Gadog ini menjadi pengingat bahwa kelompok lanjut usia membutuhkan perhatian, bukan hanya dalam bentuk kepedulian sesaat, tetapi juga perlindungan sosial yang berkelanjutan.
Pemerintah perlu memastikan warga lanjut usia yang membutuhkan mendapatkan akses terhadap bantuan sosial, layanan kesehatan, serta pendampingan sesuai kondisi masing-masing.
Sebab, di balik aktivitas sederhana seorang lansia yang masih berjualan, bisa terdapat persoalan kehidupan yang tidak selalu terlihat oleh orang lain.
Kepedulian Jenal Mutaqin hari itu mungkin hanya berlangsung dalam sebuah pertemuan singkat. Namun, kisah tersebut membuka ruang untuk melihat kembali bagaimana masyarakat dan pemerintah memperlakukan warga lanjut usia yang masih berjuang menjalani kehidupan.
Editor : Edwin S















