megaswaranews.com, Cibungbulang – TNI Angkatan Udara mengerahkan helikopter Caracal EC725 untuk membantu pemadaman kebakaran di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor. Dalam lima kali penerbangan atau sorti pada Kamis (10/9/2026), sekitar 15 ton air dijatuhkan dari udara untuk membantu menjinakkan api.
Dukungan pemadaman melalui metode water bombing tersebut menjadi bagian dari upaya gabungan lintas instansi dalam menangani kebakaran di kawasan pengelolaan sampah yang masih menyisakan titik panas dan bara di dalam tumpukan sampah.
Komandan Lanud Atang Sendjaja, Marsma TNI A. F. Picaulima, menjelaskan bahwa helikopter membawa sekitar tiga ton air dalam setiap sorti untuk dijatuhkan ke titik kebakaran yang menjadi sasaran.
“Kalau hari ini kita sudah lima kali sorti, lima kali buang. Kalau lima dikali tiga, sekitar 15 ton air sudah kita buang,” ujar A. F. Picaulima.
Menurutnya, pemadaman dari udara membantu menjangkau titik api yang sulit ditangani secara langsung oleh petugas di darat. Namun, operasi tersebut menghadapi kendala ketika kondisi mulai gelap karena sumber air untuk pengisian tidak lagi terlihat dengan jelas.
Meski demikian, TNI AU menyatakan kesiapan untuk kembali memberikan dukungan apabila diperlukan berdasarkan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten Bogor dan Pemerintah Kota Bogor.
“Jika besok masih dinyatakan perlu, kita menunggu informasi dari Pak Bupati atau Pak Wali Kota,” jelasnya.
Bara di Dalam Tumpukan Sampah Jadi Tantangan
Kepala Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan Kabupaten Bogor, Yudi Santosa, mengatakan kebakaran di TPA memiliki karakteristik berbeda dibandingkan kebakaran pada umumnya. Api yang bertahan selama berjam-jam dapat merambat ke bagian dalam tumpukan sampah dan membentuk bara yang sulit dijangkau.
Kondisi tersebut membuat api berpotensi kembali muncul ketika tumpukan sampah dibongkar, meskipun permukaannya terlihat sudah padam.
“Ketika api sudah muncul selama 12 jam, di dalamnya terjadi bara. Ketika dibalik, muncul api. Ini yang kemudian harus kita sikapi,” ujar Yudi.
Untuk mengatasi kondisi tersebut, petugas gabungan mengoptimalkan penggunaan alat berat seperti ekskavator dan dozer guna membongkar tumpukan sampah. Setelah bara terbuka, petugas melakukan penyiraman dan pendinginan agar titik panas dapat ditangani secara menyeluruh.
Selain itu, pemantauan menggunakan kamera termal masih menemukan sejumlah titik bersuhu tinggi, terutama di bagian utara TPA Galuga. Karena itu, pembongkaran dan penyiraman terus dilakukan untuk menurunkan suhu di area terdampak.
“Asap bukan berarti sudah berhenti, karena di balik asap masih dimungkinkan adanya api,” katanya.
Petugas Gabungan Perkuat Penanganan di Darat
Penanganan kebakaran TPA Galuga melibatkan berbagai unsur, mulai dari Pemerintah Kabupaten Bogor, Pemerintah Kota Bogor, TNI, Polri, BPBD, Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, Dinas Perhubungan, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Lingkungan Hidup, PMI, hingga Dinas Kesehatan.
Yudi menegaskan, seluruh unsur perlu bergerak secara terkoordinasi dengan memanfaatkan peralatan yang tersedia agar pemadaman dan pendinginan berjalan optimal.
Pengaturan lalu lintas di sekitar lokasi juga menjadi perhatian untuk memastikan mobil pemadam kebakaran dapat keluar-masuk kawasan TPA dengan aman dan lancar. Petugas turut merencanakan perpanjangan selang pemadam menuju titik api yang sulit dijangkau, serta pembuatan parit dan saluran air di lokasi tertentu untuk membantu mencegah penyebaran api.
“Ini tidak bisa sendiri-sendiri. Semua harus menangani secara terkoordinir dengan segala peralatan yang kita miliki,” tegasnya.
Sinergi lintas instansi tersebut diarahkan tidak hanya untuk memadamkan api yang terlihat di permukaan, tetapi juga memastikan bara dan titik panas di dalam tumpukan sampah dapat dikendalikan.
Langkah tersebut menjadi penting untuk mengurangi risiko api kembali menyala dan meluas, sekaligus mendukung pemulihan kondisi TPA Galuga agar aktivitas pengelolaan sampah dapat berjalan aman. (Edwin S)















