megaswaranewa.com, DRAMAGA, KABUPATEN BOGOR — Angin segar pembangunan dan harapan baru kini menyelimuti Jalan Malangsari, Gang 10, Desa Neglasari. Di sepanjang jalan yang menghubungkan RT 001 RW 001 hingga RT 004 RW 001, sedang berlangsung penataan kawasan bersejarah bernama Dayeuh Pajajaran. Membentang sejauh 300 meter, kawasan ini tak sekadar proyek perbaikan fisik, melainkan wujud nyata kebangkitan nilai-nilai luhur, kebersamaan, dan kemandirian warga yang kini berbenah bersama.
Pengerjaan yang dimulai dengan semangat gotong royong ini kini memasuki tahap akhir. Diperkirakan seluruh pekerjaan akan tuntas dalam satu minggu hingga 10 hari ke depan, dan segera dapat dinikmati oleh seluruh warga. Kamis (01/10/2026)
EMBENG, KOORDINATOR LAPANGAN: PEKERJAAN LANCAR, BAHAN TERSIAP, DIPERCAYAKAN HASIL YANG BAIK
Embeng, yang dipercaya sebagai koordinator lapangan, tampak tenang dan optimis melihat perkembangan di lokasi. Baginya, kelancaran proses ini adalah bukti kebersamaan yang kuat.
“Mudahan satu minggu sampai sepuluh hari lagi sudah tuntas semuanya, Kak. Bahan-bahannya sudah komplit, cukup, dan tersedia di lokasi. Alhamdulillah pengerjaan berjalan lancar, tidak ada kendala yang berarti. Semua berjalan sesuai rencana,” ujarnya dengan tulus.
Di sepanjang kawasan ini, warga akan menyambut kehadiran satu unit gapura yang berdiri gagah di bagian depan, menjadi penanda masuk yang megah sekaligus memuliakan identitas tempat. Tidak jauh dari sana, dibangun dua unit saung, masing-masing berukuran 3 x 2 meter — tempat istirahat, bercengkerama, dan berkumpul yang sederhana namun bermakna.
Struktur bangunan utama sudah terpasang kokoh. Tinggal tahap penyempurnaan yang penuh ketelatenan: permukaan kayu akan dicuci bersih, serabut-serabut halus atau yang dikenal warga sebagai “merang-merang” dihilangkan, lalu dilapisi pernis agar tampil memancarkan keindahan alami sekaligus tahan lama dihajar perubahan cuaca.
“Kami ingin hasilnya benar-benar baik. Dicuci dulu, dibersihkan sampai tuntas, baru dipernis. Perawatan khusus ini kami lakukan sebelum diserahkan kepada warga. Harapan kami sederhana: semoga semua ini selesai dengan baik, bermanfaat, dan menjadi kebanggaan bersama,” tambahnya.
ALIF, KETUA RT 04 / RW 01: BUKAN HANYA BANGUNAN, TAPI PENDIDIKAN DAN KEBERSAMAAN
Bagi Alif, Ketua RT 04/RW 01, penunjukan wilayahnya sebagai kawasan Dayeuh Pajajaran adalah sebuah kehormatan sekaligus amanah besar. Ia melihat makna yang lebih dalam dari tiap tiang yang berdiri.
“Terima kasih kami sampaikan kepada Pemerintah Desa Neglasari yang telah menunjuk wilayah kami menjadi bagian dari Dayeuh Pajajaran. Bagi kami, ini bukan sekadar bangunan yang berdiri. Ini adalah cara kita mengajak sesama warga untuk mengenal sejarah, mencintai lingkungan, berdisiplin, dan saling berbenah menjadi lebih baik,” ungkapnya tulus.
Ketika nanti semua selesai, warga akan mendapati kawasan yang hidup dan bermanfaat:
Spot-spot foto yang indah, mengundang warga maupun tamu untuk berhenti sejenak, menikmati suasana, dan mengenang keindahan tempatnya;
Gazebo yang tak sekadar tempat berteduh, melainkan ruang pertemuan, musyawarah, dan kegiatan warga — tempat di mana suara setiap warga didengar;
Pos Kamling, pusat kewaspadaan dan keamanan lingkungan yang dijaga bersama demi ketenangan dan kenyamanan rumah tangga warga;
Leuit, atau gudang padi — simbol kehidupan, kemakmuran, dan kearifan leluhur yang tetap dijaga di tengah zaman yang terus berubah.
Yang tak kalah penting, keindahan ini akan dijaga. Pengelolaan dan pemeliharaan kawasan dipercayakan kepada Kelompok Kampung Ramah Lingkungan (KRL), yang dibentuk dari warga sendiri — mereka yang tinggal, mengenal, dan mencintai tempat ini.
“Setelah semua beres, KRL lah yang akan menjaga, merawat, dan mengawasi keberlangsungannya. Agar tetap bersih, rapi, dan terjaga keindahannya dari waktu ke waktu,” jelas Alif.
Terkait penampilan para pengurus, dipilih kesederhanaan yang bermartabat:
“Anggota KRL akan mengenakan kaos seragam sebagai tanda kekompakan dan kesatuan, sesuai dengan tugas menjaga kebersihan lingkungan. Sementara bagi pemandu atau pemandu tamu, cukup berpakaian rapi, sopan, dan mengenakan pakaian sehari-hari. Keramahan tulus dari hati lebih berharga daripada busana apa pun,” paparnya.
YAYAN MULYANA, KEPALA DESA NEGLASARI: MEWUJUDKAN WARISAN, MENGGERAKKAN MASA DEPAN
Kepala Desa Neglasari, Yayan Mulyana, melihat pembangunan ini sebagai langkah nyata yang menyatukan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Baginya, Dayeuh Pajajaran bukan sekadar nama bersejarah yang dipasang di papan atau gapura — melainkan semangat yang hidup di setiap warga.
“Penetapan RW 01 sebagai kawasan Dayeuh Pajajaran adalah upaya kami menghidupkan kembali nilai-nilai sejarah sekaligus meningkatkan kualitas lingkungan tempat kami tinggal. Kami ingin warga tidak sekadar menikmati fasilitas yang ada, tetapi ikut menjaga, merawat, dan membanggakannya sebagai milik bersama,” tegasnya.
Lebih dari batu dan kayu, yang dibangun di sini adalah kesadaran dan kebersamaan. Warga dilibatkan sejak awal — dari perencanaan, pelaksanaan, hingga nanti saat merawatnya. Inilah kunci agar program ini terus berjalan, tidak berhenti setelah peresmian.
“Keterlibatan warga dari awal hingga akhir menjadi jaminan keberlanjutan. Ketika warga merasa memiliki, mereka akan menjaga. Ketika mereka menjaga, keindahan ini akan terus terjaga untuk anak cucu kita nanti,” ujar Yayan Mulyana.
Dengan mendekatnya hari penyelesaian, harapan pun tumbuh semakin nyata. Dayeuh Pajajaran diharapkan menjadi wajah baru Desa Neglasari: bersih, tertib, indah, berbudaya, dan penuh kehangatan. Sebuah tempat di mana sejarah tidak dilupakan, lingkungan dijaga, dan setiap warga merasa menjadi bagian penting dari kemajuan yang sedang diraih bersama.
“Semoga Dayeuh Pajajaran menjadi kebanggaan kita semua. Bukan hanya karena bangunannya yang indah, tetapi karena di dalamnya tumbuh warga yang saling peduli, saling menjaga, dan berjuang bersama demi kemajuan desa tercinta ini,” pungkasnya. (manabd)















