megaswaranews.com, Bogor – Masa bakti jajaran direksi Perusahaan Umum Daerah (Perumda) Tirta Kahuripan, perusahaan milik Pemerintah Kabupaten Bogor, tersisa 4 harian lagi.
Namun, hingga Jum’at, 25 September 2026 kemarin, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor, sebagai pemilik saham tunggal perusahaan belum mengumumkan pembukaan seleksi.
Sikap Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bogor yang terkesan sengaja memperlambat pembukaan seleksi direksi Perumda Air Minum Tirta Kahuripan, nama perusahaan penyuplai air bersih kepada lebih dari 244 ribu pelanggan itu membuat publik heran.
Padahal pada periode sebelumnya satu bulan sebelum masa jabatan direksi berakhir Pemkab Bogor, gerak cepat (Gercep) sudah melakukan seleksi untuk mengganti jajaran direksi lama.
“Ini agak aneh, kenapa jabatan direksi yang tinggal menghitung hari habis, petinggi di lingkup Pemkab Bogor, tak kunjung mengumumkan pembukaan seleksi direksi Perumda Air Minum Tirta Kahuripan,”ungkap Ibnu Sakti Mubarok, kader Partai Demokrasi sekaligus aktivis GMNI itu, Sabtu,16 September 2026.
Perusahaan Butuh Sosok Berkompeten
Menurut Ibnu Sakti Mubarok, Perumda Air Minum Tirta Kahuripan, adalah perusahaan milik daerah yang asetnya sangat besar dan menjadi perusahaan air minum atau penyuplai air bersih ternama dari semua perusahaan sejenis yang dimiliki pemerintah kabupaten dan kota di seluruh Indonesia.
Makanya, sambung Ibnu Sakti Mubarok, perusahaan membutuhkan sosok direksi yang memiliki kompetensi untuk mengembangkan perusahaan milik daerah itu jadi korporasi besar yang suplai air bersihnya bisa menjangkau wilayah – wilayah perkotaan padat pendudukan yang kesulitan mendapatkan air bersih.
“Sosok yang diharapkan itu bisa didapatkan melalui seleksi terbuka, transparan dan akuntabel.Ini penting diperhatikan agar usaha perusahaan bisa terus berkembang apalagi sampai sekarang wilayah yang seharusnya sudah terlayani pasokan air bersih, seperti di Cibinong, ternyata masih banyak yang menggunakan air tanah atau sumur,” ujar Ibnu Sakti Mubarok.
Penguatan Fiskal Kas Daerah dan Bukan Jadi Beban
Menurut Ibnu Sakti Mubarok, BUMD didirikan atau dibentuk, termasuk Perumda Air Minum Tirta Kahuripan, salah satunya difungsikan sebagai penyumbang uang ke kas daerah untuk memperkuat kondisi Fiskal agar Kabupaten Bogor, tidak terlalu bergantung pada bantuan pemerintah provinsi maupun pusat.
“Tapi berdasarkan data, sumbangan uang berupa deviden dari perusahaan ke kas daerah masih belum besar. Parahnya lagi, uang yang disetor sering diminta kembali dengan dalih untuk pengembangan usaha dan peremajaan peralatan permesinan. Ini sama artinya perusahaan masih jadi beban APBD,’ kata Ibnu Sakti Mubarok.
Ibnu mengaku sedih dan miris, ketika di wilayah barat Kabupaten Bogor, tepatnya di unit pelayanan Leuwiliang, pasokan air bersih di sejumlah kawasan pemukiman sering mati, seperti yang dialami warga perumahan Grand Sutera. Sehingga para pelanggan mayoritas emak-emak, pada awal Agustus 2026 lalu menggeruduk kantor pelayanan Leuwiliang.
“Aksi penggerudukan dan ketidakberdayaan pimpinan kantor cabang Leuwiliang mengatasi kendala suplai air bersih kepada pelanggan ink jadi persoalan serius dan kenapa sampai tak bisa tertangani oleh jajaran direksi yang kini menjabat, mereka itu kan saat dilantik sudah diberikan amanah agar jangan tingkat kematian pasokan air kepada pelanggan ditekan seminimal mungkin,” sebut Ibnu.
Kapasitas Mesin Pompa Air Terbatas
Sementara itu, informasi yang dihimpun Jabarstyle.com, sering terhentinya pasokan atau suplai air bersih kepada pelanggan di wilayah barat seperti di cabang Leuwiliang, disebabkan kemampuan mesin pompa menyedot air tidak bisa lagi ditingkatkan atau dinaikan karena usia teknisnya sudah ujur atau tua.
“Sumur di Cibungbulang dan Geledug, memang saat ini melayani jumlah pelanggan yang terus bertambah, sehingga pada jam-jam puncak terjadi peningkatan kebutuhan air cukup signifikan dan diperparah dampak kemarau panjang akibatnya debit sungai terus menurun sehingga penyesuaian proses produksi,”kata manajemen Perumda Air Minum Tirta Kahuripan, kepada Jabarstyle.com,Jum’at,7 Agustus 2026.
Namun demikian, manajemen Perumda Air Minum Tirta Kahuripan, terus melakukan evaluasi terhadap kapasitas produksi kedua instalasi tersebut dan tim teknik cabang pelayanan Leuwiliang pun terus melakukan pencarian titik-titik kebocoran untuk mengurangi kehilangan air dan rehab jaringan pipa untuk menyempurnakan pengaliran di daerah tersebut. (M. Yusuf)















