megaswaranews.com, KEMANG, KABUPATEN BOGOR — Di tengah gelombang keprihatinan menyusul maraknya laporan kasus gangguan kesehatan hingga keracunan yang dialami sejumlah siswa usai mengonsumsi makanan dari program Makan Bergizi Gratis atau MBG, perhatian publik kini tertuju pada sosok Deni Pramuji. Sebagai mitra Satuan Pelayanan Pengelolaan Gizi atau SPPG di wilayah Jampang, Kecamatan Kemang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Deni dikenal sebagai pribadi yang tegas, sederhana, ramah, dan senantiasa konsisten dalam menjalankan tugasnya. Kini, ia tampil ke depan menegaskan sikap sekaligus kesiapannya membantu rekan-rekan pengelola di seluruh Indonesia. Minggu (26/9/2026)
Berbagai informasi dan pemberitaan yang beredar di media sosial maupun sejumlah media massa terkait kasus keracunan pada anak-anak penerima manfaat MBG menyentuh hati Deni Pramuji. Ia tidak tinggal diam, melainkan merasa turut prihatin sekaligus terpanggil untuk bergerak memberikan solusi nyata.
“Kami sangat prihatin mendengar dan melihat kejadian-kejadian yang menimpa anak-anak kita. Hal ini tentu tidak diharapkan oleh siapa pun. Untuk itu, saya menyatakan kesiapan penuh untuk membantu rekan-rekan pemilik maupun pengelola SPPG di seluruh Indonesia, agar kejadian serupa tidak terulang,” ujar Deni Pramuji.
Menurutnya, langkah pencegahan harus dimulai dari pemahaman yang benar sejak awal. Setiap pengelola SPPG wajib mengetahui secara mendalam jenis makanan yang baik, aman, bergizi, sekaligus disukai oleh anak-anak penerima manfaat. Pemahaman ini menjadi fondasi utama sebelum makanan disiapkan dan disajikan kepada para siswa.
“Kita tidak boleh asal menyajikan makanan. Kita harus paham dulu: makanan apa yang aman, bergizi, dan disukai anak-anak. Jika sudah dipahami, barulah kita masuk ke tahap pengolahan,” tegasnya.
Selanjutnya, Deni menekankan pentingnya penerapan standar memasak yang baik dan benar, termasuk ketepatan takaran gizi serta kebersihan yang dijaga sepanjang proses pengolahan. Dalam hal ini, ia menyarankan agar dapur pengolahan melibatkan tenaga juru masak yang kompeten, baik yang berlatar belakang pendidikan tata boga maupun yang memiliki pengalaman mengelola rumah makan atau usaha kuliner. Hal ini ditujukan agar kualitas, rasa, kebersihan, dan nilai gizi makanan terjamin secara menyeluruh.
“Tenaga yang mengolah makanan adalah kunci utama. Jika dikelola oleh orang yang paham tata cara memasak yang higienis dan sehat, risiko terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan dapat ditekan seminimal mungkin. Anak-anak berhak mendapatkan makanan yang tidak hanya mengenyangkan, tetapi juga sehat, aman, dan menunjang pertumbuhannya,” jelas Deni.
Langkah serta kepedulian Deni Pramuji ini pun mendapatkan apresiasi dari tenaga ahli gizi di Kecamatan Kemang, Neni. Dalam keterangannya, Neni menyambut baik inisiatif yang diambil Deni dan menegaskan bahwa pemahaman tentang jenis makanan, standar pengolahan, hingga keterampilan tenaga pengolah adalah hal-hal yang sangat krusial dalam menjamin keberhasilan program MBG.
Pandangan lengkap dari Neni beserta penjelasan mendalam dari Deni Pramuji dapat disaksikan secara lengkap dalam video yang dilampirkan pada pemberitaan ini.
Dengan langkah nyata ini, diharapkan seluruh pengelola SPPG dapat saling bersinergi, berbagi pengalaman, serta senantiasa meningkatkan kualitas pelayanan, sehingga program Makan Bergizi Gratis benar-benar menjadi berkah, sehat, dan bermanfaat bagi tumbuh kembang generasi penerus bangsa. (manabd)















