megaswaranews.com, SUKABUMI – Ketua DPRD Kota Sukabumi Wawan Juanda menyoroti ketersediaan anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT) dalam APBD Kota Sukabumi Tahun Anggaran 2026. Ia mendorong pemerintah daerah memperkuat anggaran tersebut agar penanganan kondisi darurat tidak terkendala persoalan pembiayaan.
Sorotan itu muncul saat Pemerintah Kota Sukabumi menangani kebakaran Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Cikundul yang terjadi sejak Sabtu malam.
Wawan mengatakan pemerintah daerah membutuhkan dukungan anggaran yang memadai untuk menghadapi berbagai kondisi darurat, termasuk bencana dan kejadian tidak terduga yang membutuhkan penanganan cepat.
Menurut Wawan, kebutuhan ideal anggaran BTT Kota Sukabumi mencapai sedikitnya Rp10 miliar per tahun. Namun, pemerintah daerah harus menyesuaikan alokasi anggaran dengan kebutuhan pembiayaan program lainnya.
Ia menyebut program Universal Health Coverage (UHC) dan refocusing anggaran untuk menyesuaikan kemampuan keuangan daerah turut memengaruhi ketersediaan anggaran BTT.
Anggaran Darurat Perlu Diperkuat
Wawan menilai keterbatasan anggaran menjadi salah satu hal yang perlu mendapat perhatian ketika pemerintah menghadapi kejadian darurat, termasuk kebakaran TPA Cikundul.
Dalam proses pemadaman kebakaran tersebut, operasional kendaraan pemadam kebakaran sempat menghadapi kendala karena kehabisan solar. Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki bahkan disebut menggunakan uang pribadi untuk membeli solar guna mendukung operasional kendaraan pemadam.
Menurut Wawan, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya kesiapan anggaran darurat. Dengan alokasi yang memadai, pemerintah dapat menjalankan penanganan keadaan darurat secara lebih cepat tanpa terkendala pembiayaan.
Wawan juga membandingkan dukungan anggaran penanganan kebakaran saat ini dengan kondisi sekitar 20 tahun lalu.
“Saya akui, ya kita akui, memang 20 tahun yang lalu berbeda dengan sekarang. Kurang terperhatikan. Jadi kalau dulu di sini ada pos yang permanen, termasuk ya plang, pintu, dan agar orang-orang siapapun bisa masuk,” ujar Wawan.
DPRD Dorong Penguatan Fiskal Daerah
Wawan mengatakan pihaknya telah menelusuri perubahan dukungan anggaran penanganan kondisi darurat dari waktu ke waktu. Ia menyebut terdapat perbedaan besaran anggaran dibandingkan sekitar dua dekade lalu.
“Dulu itu anggaran 20 tahun yang lalu itu sampai Rp3 miliar, ketika emas harganya Rp60 ribu. Sekarang emas Rp2 juta, tapi anggaran cuma Rp1,5 miliar,” katanya.
Wawan menegaskan DPRD bersama Pemerintah Kota Sukabumi perlu mendorong penguatan kemampuan fiskal daerah. Salah satu perhatian tersebut yakni memastikan ketersediaan anggaran untuk menghadapi kondisi darurat.
Ia berharap pemerintah daerah dapat memperkuat kesiapan pembiayaan agar penanganan bencana dan kejadian darurat di Kota Sukabumi berjalan cepat dan tidak terkendala keterbatasan anggaran.
(SOFWAN ZULFIKAR)















