megaswaranews.com, LEUWISADENG, KABUPATEN BOGOR – Peristiwa penyebaran video tidak senonoh di kawasan Pasir Ipis, Desa Purasari, Kecamatan Leuwiliang, menggerakkan gelombang keprihatinan luas di tengah masyarakat. Empat belas kecamatan se-Bogor Barat kini bersatu mengkampanyekan penolakan penyimpangan tersebut. Kesadaran ini pun merambah ke dunia pendidikan, di mana SMK Pesona Dywantara turut memperketat kewaspadaan dan menyusun langkah pencegahan menyeluruh. Rabu (23/9/2026)
Kampanye Bersatu Seluruh Wilayah Bogor Barat
Kampanye bertajuk “Jaga Generasi, Perkuat Keluarga, Tolak Normalisasi LGBT” digelar sebagai respons tegas sekaligus panggilan bersama untuk melindungi tatanan sosial, budaya, dan nilai keagamaan yang dijunjung masyarakat. Tidak hanya di ruang publik, himbauan kewaspadaan kini juga menyasar lingkungan sekolah agar pengaruh buruk tersebut tidak menyentuh generasi muda.
SMK Pesona Dywantara, Sosialisasi Langsung ke Setiap Kelas
Budy Antoro, Pembina Yayasan Pesona Dywantara, menjelaskan bahwa meskipun peristiwa serupa sebenarnya sudah ada sebelumnya, isunya kini semakin meluas di wilayah Bogor Barat. Oleh karena itu, pihak sekolah telah menyiapkan langkah pencegahan yang sistematis dan terarah.
“Kami sangat memperhatikan apa yang terjadi di Leuwiliang. Peristiwa itu menjadi peringatan besar bagi kita semua. Di SMK Pesona Dywantara, kami segera tingkatkan kewaspadaan. Setiap hari Senin, Kepala Sekolah, Pembina OSIS, dan pengelola sekolah masuk langsung ke setiap kelas untuk menyampaikan informasi secara jelas: apa bahayanya, bagaimana dampaknya, dan bagaimana hal itu dapat merusak mental serta masa depan anak-anak,” ungkap Budy Antoro.
Pengarahan yang dilakukan rutin dan langsung di hadapan para siswa ini bertujuan agar pesan tersampaikan utuh, tidak tereduksi, dan membentuk kesadaran mandiri sejak dini.
“Dengan pengarahan tersebut, kami berharap di lingkungan Pesona Dywantara tidak akan ada yang terjerumus ke hal seperti itu. Anak-anak memahami bahayanya sejak awal, sehingga mampu menolak pengaruh buruk,” tegasnya.
Gandeng Puskesmas dan Polsek, Benteng Perlindungan Diperkuat
Tidak berhenti di sosialisasi internal, sekolah berkomitmen memperkuat jaring perlindungan dengan melibatkan pihak berwenang dan tenaga kesehatan.
“Insya Allah, kami akan segera menggandeng Puskesmas dan Polsek setempat untuk turut serta dalam upaya pencegahan ini. Semakin banyak pihak yang terlibat, semakin kokoh benteng yang kita bangun demi keselamatan dan kesucian generasi kita,” tambahnya.
Pembinaan karakter tidak hanya berhenti di pelajaran agama, melainkan pengawasan menyeluruh, mulai dari interaksi antar-siswa, kegiatan di luar jam pelajaran, hingga peran orang tua di rumah. Sekolah menjadi benteng utama menjaga akhlak generasi penerus.
“Kami tanamkan kepada siswa: pilihlah teman yang baik, perbanyak kegiatan positif, dan jaga diri dari pengaruh yang merusak. Sekolah bukan sekadar tempat belajar ilmu, melainkan rumah kedua yang menjaga kehormatan dan masa depan setiap anak,” pungkas Budy Antoro.
Dengan kesadaran yang tumbuh dari masyarakat hingga lembaga pendidikan, diharapkan rantai pengaruh buruk dapat diputus sejak dini, menjamin masa depan generasi yang sehat, berakhlak mulia, dan terhormat di seluruh wilayah Bogor Barat. (manabd)














