megaswaranews.com, GUNUNG SINDUR, KABUPATEN BOGOR — Fenomena yang menarik perhatian luas dan menjadi pembicaraan hangat di media sosial terjadi di kawasan makam keramat Raden Mas Pangeran Papak, Kampung Kareo, Desa Cibadung, Kecamatan Gunung Sindur, Kabupaten Bogor. Air kolam pemandian karomah yang biasanya jernih tiba-tiba berubah warna menjadi merah delima, memicu warga berdatangan untuk berziarah dan mengambil air tersebut. Senin (21/9/2026)
Perubahan Warna yang Diiringi Pengalaman Spiritual
Berdasarkan keterangan Arvin Saari, selaku Juru Kunci Karomah Raden Keramat Raden Mas Pangerang Papak, peristiwa ini bermula dari sebuah pengalaman mimpi yang dialami salah satu warga pada malam sebelumnya.
“Saat malam Minggu, saya bermimpi air di sini meluap hingga ke kali. Setelah itu datang tiga sosok yang tampak seperti orang saleh, lalu turun dan mandi di kolam ini. Pagi harinya, tepat pukul 11.00 siang, saya datang ke lokasi dan ternyata sudah ada warga yang sedang berziarah. Saya pun ikut, lalu orang tersebut turun mandi, dan saat itulah air berubah warna menjadi merah delima,” ungkap Arvin.
Perubahan warna tersebut tidak menetap permanen, melainkan muncul dan memudar secara bergantian. Setiap kali berubah menjadi merah delima, kondisi itu bertahan sekitar satu jam setengah, lalu kembali jernih, dan berubah lagi. Fenomena ini menyebar cepat di media sosial dan menarik warga dari berbagai penjuru yang datang untuk mengambil air tersebut.
Tempat ini dikenal sebagai pemandian karomah peninggalan tokoh wali, Raden Mas Pangeran Papak. Sejak turun-temurun, warga meyakini air di tempat ini memiliki keberkahan.
“Orang tua kami berpesan, cukup ambil airnya saja. Untuk apa digunakan, baik diminum maupun untuk mandi, kami serahkan kepada keyakinan masing-masing warga,” jelas Arvin.
Guna mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, pihak pengelola memasang palang bambu di sekitar kolam sebagai langkah pencegahan sementara.
“Ini tindakan pencegahan saja, bukan menutup akses sepenuhnya. Kami khawatir ada yang menyalahgunakan, jadi dipasang bambu sementara. Semoga dalam satu atau dua hari ke depan keadaan kembali seperti biasa,” tambahnya.
Kegiatan ziarah tetap berlangsung, namun pengelola mengimbau warga agar senantiasa menjaga kesopanan, ketertiban, serta tidak melakukan hal-hal yang melanggar norma agama maupun kesusilaan.
Kepala Desa: Tunggu Hasil Resmi Laboratorium Selama 14 Hari Kerja
Menyikapi maraknya informasi yang beredar di media sosial, Kepala Desa, Bardi memberikan klarifikasi sekaligus imbauan kepada seluruh warga. Beliau menyatakan bahwa saat peristiwa itu terjadi, pihaknya tidak berada di lokasi secara langsung.
“Saat peristiwa itu terjadi, kami tidak berada di tempat. Setelah sholat Maghrib, kami baru mendatangi lokasi dan saat itu air sudah kembali seperti semula,” ungkap Kepala Desa.
Pemerintah Desa segera melaporkan dan mengonfirmasi peristiwa tersebut kepada PPK Kecamatan, Dinas Lingkungan Hidup, serta tim laboratorium. Pengecekan langsung dilakukan oleh tim Kabupaten bersama dinas terkait hingga larut malam.
“Kami langsung berkoordinasi dengan pihak Kecamatan, Dinas LH, dan tim Laboratorium. Bahkan, malam itu juga hingga pukul 12.00 malam, dilakukan pengecekan langsung,” jelas Kepala Desa.
Hasil pemeriksaan lengkap diperkirakan baru dapat diketahui dalam 14 hari kerja ke depan. Kepala Desa meminta warga agar tidak terburu-buru mempercayai keterangan yang beredar di Instagram, YouTube, maupun media sosial lainnya.
“Apa yang beredar di medsos menurut kami belum akurat dan belum sesuai fakta. Sebagai Kepala Desa, saya belum bisa membenarkan semua yang sudah tersebar. Kami hanya akan menyampaikan kebenaran berdasarkan hasil resmi dari Dinas terkait dan Laboratorium,” tegasnya.
Pemerintah Desa akan mengumumkan hasil resmi segera setelah laporan keluar. Warga diharapkan tetap tenang, tidak mudah terpengaruh informasi yang belum jelas, serta menjaga ketertiban bersama.
Hingga saat ini, belum ada penjelasan ilmiah resmi terkait perubahan warna air tersebut. Warga berharap fenomena ini menjadi pengingat untuk semakin mendekatkan diri kepada Tuhan dan senantiasa menjaga kesakralan tempat yang dihormati bersama. (manabd)















