megaswaranews.com — Di tengah maraknya makanan cepat saji dan tren kuliner yang berganti musim, ada kekayaan rasa Nusantara yang perlahan mulai memudar. Bukan karena tak lezat, melainkan karena makin sedikit tangan yang mewarisi resep dan cara mengolahnya. Makanan lawas khas daerah yang dulu menghiasi meja makan keluarga dan pesta adat kini makin sulit ditemukan, bahkan oleh warga daerahnya sendiri.
Hidangan yang Mulai Jarang Ditemui
Gajih Asap Khas Aceh
Daging sapi atau kerbau yang diawetkan dengan cara diasap berhari-hari, lalu dimasak dengan rempah menjadi kuah gurih. Dulu menjadi bekal perjalanan jauh dan hidangan kehormatan, kini proses pembuatannya yang memakan waktu membuatnya makin jarang dibuat.
Nasi Jinggo dan Sate Lilit Bali Versi Asli
Bukan yang dijual di pinggir jalan sekarang. Versi lawasnya menggunakan bumbu lengkap, kelapa parut sangrai, dan dibungkus daun pisang segar tanpa bahan pengawet. Rasanya lebih harum, gurih, dan tahan lama, dulu disiapkan untuk acara keluarga besar.
Sambal Tuk-Tuk Khas Sumatera Utara
Ikan yang dibakar langsung di atas batu panas, lalu diulek dengan cabai, andaliman, dan bawang. Dulu menjadi makanan harian nelayan, kini cara pengolahannya yang khas dan ketergantungan pada bahan segar membuatnya makin jarang ditemui di restoran.
Sayur Babanci Khas Jawa Barat
Hidangan berkuah santan kental dengan bumbu lengkap, berisi daging atau ikan, serta buah-buahan asam. Dulu dimasak untuk menyambut tamu kehormatan. Kini resepnya bahkan sudah tak banyak dikenal oleh generasi muda setempat.
Papeda Kuah Kuning Maluku dan Papua
Makanan pokok berbahan sagu yang dimasak dengan air mendidih, disajikan dengan ikan berkuah kunyit dan jeruk nipis. Dulu dimakan bersama-sama dalam satu wadah simbol kebersamaan. Kini banyak warga kota yang sudah terbiasa dengan nasi, sehingga sagu perlahan ditinggalkan.
Mengapa Bisa Terlupakan?
Pertama, yakni proses masak lama, bahan baku khas makin sulit dicari. Generasi tua yang memegang resep tak sempat mewariskan sepenuhnya. Dianggap “terlalu sederhana” atau tak sejalan dengan selera kekinian dan kemasan tak menarik bagi anak muda, padahal rasanya tak tertandingi.
Upaya Menghidupkan Kembali
Beruntung, kini muncul gerakan pelestarian dengan adanya keberadaan restoran kecil yang khusus menyajikan menu lawas dengan resep asli. Kemudian, adanya komunitas pemuda yang mendokumentasikan resep dari orang tua dan kakek-nenek. Festival kuliner daerah yang memberi panggung bagi hidangan tradisional, serta sekolah dan kampus mulai mengenalkan kembali makanan lokal dalam program pelestarian budaya.
Makanan dinilai bukan sekadar perut kenyang. Di dalamnya ada cerita, perjuangan, dan kebijaksanaan leluhur. Melupakannya sama dengan melupakan sebagian jati diri bangsa.
Mulai dari Langkah Kecil
Kita bisa ikut melestarikan dengan cara sederhana dengan melakukan beberapa upaya, seperti tanyakan resep masakan nenek sebelum terlambat, belanja bahan makanan dari petani lokal, pilih makan di tempat yang menyajikan masakan asli daerah saat berkunjung dan kenalkan makanan khas kepada anak-anak sejak dini.
Rasa Nusantara tak boleh hilang. Selama masih ada yang memasak dan menikmatinya, warisan leluhur tetap hidup. (Lison A Putra)














