megaswaranews.com, CIAMPEA – Di tengah perkembangan zaman, masyarakat di berbagai wilayah masih teguh melestarikan tradisi turun-temurun berharga. Seperti halnya warga Kampung Ciampea Ilir, tepatnya lingkungan RT 02 dan RT 08 RW 06, Desa Tegalwaru, Kecamatan Ciampea, Kabupaten Bogor, yang baru saja menggelar kegiatan Babarit atau Sedekah Bumi bertepatan dengan tahun 1448 H/2026. Semangat yang sama juga dijaga dan dilaksanakan oleh masyarakat di sejumlah wilayah lain yang mengenal tradisi ini dengan sebutan Ngeramat. Rabu (1/7/2026)
Kegiatan ini dilaksanakan setiap tahun sebagai wujud penghormatan terhadap warisan budaya leluhur sekaligus ungkapan rasa syukur yang mendalam kepada Allah SWT atas segala karunia, terlebih karena hasil bumi dan kekayaan alam yang melimpah.
Kepala Desa Tegalwaru, Hj. Nunung Nuriyah, memberikan apresiasi tinggi dan menjelaskan makna besar di balik tradisi tersebut. “Nama kegiatannya ada yang menyebut Babarit, ada juga yang menyebut Ngeramat atau Sedekah Bumi. Sampai sekarang masih terus dilaksanakan setiap tahun, artinya kita tetap menjaga, menghormati, dan melestarikan budaya leluhur kita sendiri,” ujarnya.
Lebih lanjut ia menjelaskan, isi dan tujuan kegiatan ini disesuaikan dengan kebutuhan serta harapan warga setempat. Dari sisi pertanian, tradisi ini menjadi sarana memohon kesuburan tanah, panen yang melimpah, serta terhindar dari gangguan hama maupun bencana alam. Bagi para pedagang dan pelaku usaha, kegiatan ini bermakna permohonan kelancaran rezeki dan keberkahan dalam setiap pekerjaan.
“Pelaksanaannya tidak dijadwalkan serentak di semua wilayah, karena setiap lingkungan memiliki kesibukan dan kebutuhan yang berbeda. Namun insya Allah ke depannya kita bisa terus berkumpul merayakannya. Di lingkungan kita pun sudah ada jadwal selanjutnya, seperti di RW 1 yang diperkirakan akan ramai dikunjungi warga. Intinya semuanya berjalan lancar dan warga saling menghargai satu sama lain,” tambah Hj. Nunung Nuriyah.
Sementara itu, Ustaz Abdul Rochman menegaskan makna mendalam yang menyatukan nilai budaya dan agama dalam kegiatan ini. “Tradisi ini milik kita semua, seluruh warga. Di dalamnya berisi doa bersama, pembacaan manakib, serta berbagai permohonan tulus: ada yang memohon keselamatan keluarga, kelancaran hidup, kesehatan, ada pula yang memohon jodoh serta kebaikan bagi anak cucu,” jelasnya.
Ia berharap melalui kebersamaan dalam kegiatan ini, Allah SWT senantiasa melimpahkan keberkahan dan menjaga kerukunan warga. “Intinya, ini adalah wujud rasa syukur atas segala nikmat yang telah diterima, sekaligus sarana mempererat persatuan dan persaudaraan antarwarga masyarakat,” pungkasnya.
Hingga kini, tradisi Sedekah Bumi, Babarit, maupun Ngeramat terus dijaga keberadaannya. Hal ini menjadi bukti nyata bahwa nilai-nilai budaya warisan nenek moyang dapat berjalan beriringan dengan nilai keagamaan, serta memperkuat keharmonisan kehidupan bermasyarakat. (*)















